KITAB MAFAHIM YAJIBU AN
TUSHAHHAH
PAHAM-PAHAM
YANG HARUS DILURUSKAN
Prof.
DR. Al-'Alim Al-'Allamah Al-Muhaddits
As-Sayyid
Muhammad Bin Alwi Bin Abbas Bin Abdul Aziz Al-Maliki Al-Hasani
BAB
I
Pembahasan
Masalah
''AQIDAH''
''KESALAHAN
PARAMETER KEKUFURAN
DAN
KESESATAN DI ZAMAN SEKARANG''
LARANGAN
MENJATUHKAN VONIS KUFUR ( TAKFIR )
SECARA
MEMBABI BUTA
Banyak orang
keliru dalam memahami substansi faktor-faktor yang membuat seseorang keluar
dari Islam dan divonis kafir. Anda akan menyaksikan mereka segera memvonis
kafir seseorang hanya karena ia memiliki pandangan berbeda. Vonis yang
tergesa-gesa ini bisa membuat jumlah penduduk muslim di dunia tinggal sedikit.
Kami, karena husnuddzon, berusaha memaklumi tindakan tersebut serta berfikir
barangkali niat mereka baik. Dorongan kewajiban mempraktekkan amar ma’ruf nahi
munkar mungkin mendasari tindakan mereka. Sayangnya, mereka lupa bahwa
kewajiban mempraktekkan amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan
cara-cara yang bijak dan tutur kata yang baik (bi al-Hikmah wa al-Mau’idzoh
al–Hasanah). Jika kondisi memaksa untuk melakukan perdebatan maka hal ini harus
dilakukan dengan metode yang paling baik sebagaimana disebutkan dalam QS.
an-Nahl:125:
ادْعُ
إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ
بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
''Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik.''
Praktek amar
ma’ruf nahi munkar dengan cara yang baik ini perlu dikembangkan karena lebih
efektif untuk menggapai hasil yang diharapkan. Menggunakan cara yang negatif
dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah tindakan yang salah dan tolol. Jika
Anda mengajak seorang muslim yang sudah taat mengerjakan sholat, melaksakan
kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah, menjauhi hal-hal yang
diharamkan-Nya, menyebarkan dakwah, mendirikan masjid, dan menegakkan
syi’ar-syi’ar-Nya untuk melakukan sesuatu yang Anda nilai benar sedangkan dia memiliki
penilaian berbeda dan para ulama sendiri sejak dulu berbeda pendapat dalam
persoalan tersebut kemudian dia tidak mengikuti ajakanmu lalu kamu menilainya
kafir hanya karena berbeda pandangan denganmu maka sungguh kamu telah melakukan
kesalahan besar yang Allah melarang kamu untuk melakukannya dan menyuruhmu
untuk menggunakan cara yang bijak dan tutur kata yang baik.
Al-'Allamah
al-Imam as-Sayyid Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad mengatakan,
“Telah ada
konsensus ulama untuk melarang memvonis kufur ahlul qiblat (ummat Islam)
kecuali akibat dari tindakan yang mengandung unsur meniadakan eksistensi Allah,
kemusyrikan yang nyata yang tidak mungkin ditafsirkan lain, mengingkari
kenabian, prinsip-prinsip ajaran agama Islam yang harus diketahui ummat Islam
tanpa pandang bulu (ma ‘ulima min ad-din bi adh-dharurat), mengingkari ajaran
yang dikategorikan mutawatir atau yang telah mendapat konsensus ulama dan wajib
diketahui semua ummat Islam tanpa pandang bulu.''
Ajaran-ajaran yang
dikategorikan wajib diketahui semua ummat Islam seperti masalah ke-Esaan Allah,
kenabian, diakhirinya kerasulan dengan Nabi Muhammad saw, kebangkitan di hari
akhir, hisab (perhitungan amal), balasan, surga dan neraka bisa mengakibatkan
kekafiran orang yang mengingkarinya dan tidak ada toleransi bagi siapapun umat
Islam yang tidak mengetahuinya kecuali orang yang baru masuk Islam maka ia
diberi toleransi sampai mempelajarinya kemudian sesudahnya tidak ada toleransi
lagi.
Mutawatir adalah
hadits yang diriwayatkan sekelompok perawi yang mustahil melakukan kebohongan
kolektif dan diperoleh dari sekelompok perawi yang sama. Kemutawatir bisa
dipandang dari :
1. Aspek isnad
seperti hadits :
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
"Barangsiapa
berbohong atas namaku maka carilah tempatnya di neraka"(HR. Muslim)
2. Aspek tingkatan kelompok perawi.
Seperti
kemutawatiran al-Qur’an yang kemutawatirannya terjadi di muka bumi ini dari
wilayah barat hingga timur dari aspek kajian, pembacaan, dan penghafalan serta
ditransfer dari kelompok perawi satu kepada kelompok lain dari berbagai
tingkatannya sehingga ia tidak membutuhkan isnad.
Kemutawatiran ada
juga yang dikategorikan mutawatir dari aspek praktikal dan turun-temurun
(tawuturu ‘amalin wa tawarutsin) seperti praktik atas sesuatu hal sejak zaman
nabi sampai sekarang, atau mutawatir dari aspek informasi (tawaturu ‘ilmin)
seperti kemutawatiran mu’jizat-mu’jizat. Karena mu’jizat-mu’jizat itu meskipun
satu persatunya malah sebagian ada yang dikategorikan hadits ahad namun benang
merah dari semua mu’jizat tersebut mutlak mutawatir dalam pengetahuan setiap muslim.
Memvonis kufur
seorang muslim di luar konteks di muka adalah tindakan fatal. Dalam sebuah
hadits disebutkan :
إِذَا
قَالَ الرجلُ لأَخِيه : يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا
"Jika seorang
laki-laki berkata kepada saudara muslimnya; Hai kafir, maka vonis kufur telah
jatuh pada salah satu dari keduanya." ( HR.Bukhari)
Vonis
kufur tidak boleh dijatuhkan kecuali oleh orang yang mengetahui seluk-beluk
keluar masuknya seseorang dalam lingkaran kufur dan batasan-batasan yang
memisahkan antara kufur dan iman dalam hukum syari’at Islam.
Tidak
diperkenankan bagi siapapun memasuki wilayah ini dan menjatuhkan vonis kufur
berdasarkan prasangka dan dugaan tanpa kehati-hatian, kepastian dan informasi
akurat. Jika vonis kufur dilakukan dengan sembarangan maka akan kacau dan
mengakibatkan penduduk muslim yang berada di dunia ini hanya tinggal
segelintir.
Demikian pula,
tidak diperbolehkan menjatuhkan vonis kufur terhadap tindakan-tindakan maksiat
sepanjang keimanan dan pengakuan terhadap syahadatain tetap terpelihara. Dalam
sebuah hadits dari Anas ra. Rasulullah saw. bersabda :
ثَلَاثٌ
مِنْ أَصْلِ الْإِيمَانِ : الْكَفُّ عَمَّنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَلَا نُكَفِّرُهُ بِذَنْبٍ وَلَا نُخْرِجُهُ مِنْ الْإِسْلَامِ بِعَمَلٍ ،
وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِي اللَّهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِي
الدَّجَّالَ لَا يُبْطِلُهُ جَوْرُ جَائِرٍ وَلَا عَدْلُ عَادِلٍ وَالْإِيمَانُ
بِالْأَقْدَارِ
“Tiga hal
merupakan pokok iman; menahan diri dari orang yang menyatakan tiada Tuhan
kecuali Allah, tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari
agama Islam akibat perbuatan dosa. Jihad berlangsung terus semenjak Allah
mengutusku sampai akhir umatku memerangi Dajjal. Jihad tidak bisa dihapus oleh
kelaliman orang yang lalim dan keadilan orang yang adil dan meyakini kebenaran
takdir”. (HR. Abu Daud)
Al-Imam
al-Haramain pernah berkata:
“Jika ditanyakan
kepadaku: Tolong jelaskan dengan detail ungkapan-ungkapan yang menyebabkan
kufur dan tidak”. Maka saya akan menjawab,” Pertanyaan ini adalah harapan yang
bukan pada tempatnya. Karena penjelasan secara detail persoalan ini membutuhkan
argumentasi mendalam dan proses rumit yang digali dari dasar-dasar ilmu Tauhid.
Siapapun yang tidak dikarunia puncak-puncak hakikat maka ia akan gagal meraih
bukti-bukti kuat menyangkut dalil-dalil pengkafiran”.
Berangkat dari
paparan di muka kami ingatkan untuk menjauhi pengkafiran secara membabi buta di
luar poin-poin yang telah dijelaskan di atas. Karena tindakan pengkafiran bisa
berakibat sangat fatal.
Hanya
Allah swt. yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan hanya kepada-Nya lah
tempat kembali.
SIKAP
SYAIKH MUHAMMAD IBN ABDUL WAHHAB MENYANGKUT TAKFIR
Syaikh
Muhammad ibn Abdul Wahhab rahimahullah memiliki sikap mulia dalam hal
pentakfiran. Sebuah sikap yang dipandang aneh oleh mereka yang mengklaim
sebagai pendukungnya kemudian memvonis kafir secara serampangan terhadap
siapapun yang berbeda jalan dan menolak pemikiran mereka. Padahal Syaikh
Muhammad ibn Abdul Wahhab sendiri menolak semua pandangan-pandangan tak
berharga yang dialamatkan kepadanya. Dalam sebuah risalah yang dikirimkannya
kepada penduduk Qashim pada bahasan tentang aqidah ia menulis sebagai berikut :
''Telah
jelas bagi kalian bahwa telah sampai kepadaku berita mengenai risalah Sulaiman
ibn Suhaim yang telah sampai kepada kalian dan bahwa sebagian ulama di daerah
kalian menerima dan membenarkan isi risalah tersebut. Allah mengetahui bahwa
Sulaiman ibn Suhaim mengada-ada atas nama saya ucapan-ucapan yang tidak pernah
aku katakan dan kebanyakan tidak terlintas sama sekali di hatiku.''
Di
antaranya: Ucapan Sulaiman bahwa saya menganggap sesat semua kitab madzhab
empat. Bahwa manusia semenjak 600 tahun yang silam tidak menganut agama yang
benar.Saya mengklaim mampu berijtihad dan lepas dari taqlid. Perbedaan para
ulama adalah malapetaka dan saya mengkafirkan orang yang melakukan tawassul
dengan orang-orang shalih, dan saya mengkafirkan Imam al-Bushiri karena
ucapannya: Wahai makhluk paling mulia.
Seandainya
saya mampu meruntuhkan kubah Rasulullah saw. maka saya akan melakukannya dan
jika mampu mengambil talang Ka’bah yang terbuat dari emas maka saya akan
menggantinya dengan talang kayu. Saya mengharamkan ziarah ke makam Nabi saw,
mengingkari ziarah ke makam kedua orang tua dan makam orang lain, saya
mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah, mengkafirkan Ibnu Faridl
dan Ibnu ‘Araby, dan bahwasanya saya membakar kitab Dalailul Khairaat dan
Raudhat ar-Rayahin yang kemudian saya namakan Raudhat asy-Syayathin.
Jawaban saya atas
tuduhan telah mengucapkan perkataan-perkataan di atas adalah firman Allah:
"Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang
besar." ( QS. an-Nur:16)
Sebelum apa yang saya alami terjadi, peristiwa mirip pernah dialami Nabi saw. Beliau dituduh telah memaki Isa ibn Maryam dan orang-orang shalih. Hati mereka yang melakukan perbuatan terkutuk ini sama persis sebab menciptakan kebohongan dan ucapan palsu. Allah swt. berfirman: "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah." (Q.S. an-Nahl:105)
Sebelum apa yang saya alami terjadi, peristiwa mirip pernah dialami Nabi saw. Beliau dituduh telah memaki Isa ibn Maryam dan orang-orang shalih. Hati mereka yang melakukan perbuatan terkutuk ini sama persis sebab menciptakan kebohongan dan ucapan palsu. Allah swt. berfirman: "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah." (Q.S. an-Nahl:105)
Kafir Qurays
melontarkan tuduhan palsu bahwa Nabi saw. mengatakan bahwa Malaikat, Isa dan
‘Uzair berada di neraka. Lalu Allah menurunkan firmanNya :"Bahwasanya
orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami. Mereka
itu dijauhkan dari neraka." (QS. al-Anbiya`:101)
RISALAH
PENTING LAIN KARYA SYAIKH MUHAMMAD IBN ABDUL WAHHAB DALAM MASALAH PENTAKFIRAN
Risalah
ini dikirimkan kepada as-Suwaidi, seorang ulama Iraq. Sebelumnya as-Suwaidi
mengirimkan buku dan menanyakan mengenai apa yang diperbincangkan masyarakat.
Kemudian Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab menjawab dalam risalahnya :
"Tersebarnya
kebohongan adalah hal yang membuat orang yang berakal merasa malu untuk
menceritakannya apalagi untuk membuat-buat hal-hal yang tidak ada faktanya.
Sebagian dari apa yang kalian katakan adalah bahwasanya saya mengkafirkan semua
orang kecuali mereka yang mengikutiku. Sungguh aneh, bagaimana mungkin
kebohongan ini masuk ke akal orang yang berakal? Dan bagaimana mungkin seorang
muslim akan melontarkan ucapan demikian? Dan
apa yang kalian katakan: Seandainya saya mampu meruntuhkan kubah Nabi saw.
niscaya saya akan merealisasikannya, membakar dalailul khairaat jika mampu dan
melarang bersholawat kepada Nabi dengan ungkapan sholawat apapun.
Perkataan-perkataan ini dikategorikan kebohongan. Dalam hati seorang muslim
tidak terbesit dalam hatinya sesuatu yang lebih agung melebihi al-Qur’an.
Pada
halaman 64 dari kitab yang sama Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab berkata:
"Apa
yang kalian katakan bahwa saya telah mengkafirkan orang yang melakukan tawassul
dengan orang-orang shalih, mengkafirkan Bushoiri karena ungkapannya: Wahai
makhluk paling mulia, mengingkari diperkenankannya ziarah kubur Nabi saw,
kuburan kedua orang tua dan kuburan-kuburan orang lain serta mengkafirkan orang
yang bersumpah menggunakan nama selain Allah, maka jawaban saya atas semua
tuduhan ini adalah Firman Allah: "Maha suci Engkau (ya Tuhan kami ), ini
adalah Dusta yang besar." (QS. an-Nur:16)
MEMAKI
ORANG ISLAM ADALAH TINDAKAN FASIQ DAN MEMERANGINYA ADALAH TINDAKAN KUFUR
Ketahuilah
bahwa membenci, memboikot dan berseberangan dengan kaum muslimin adalah haram,
memaki orang Islam adalah tindakan fasiq dan memeranginya adalah tindakan kufur
jika menilai tindakan tersebut adalah halal.
Kisah
mengenai Khalid ibn Walid bersama pasukannya ketika menuju Bani Jadzimah untuk
mengajak mereka masuk Islam cukup digunakan untuk menolak pemahaman harfiah
(literal) dari judul di atas. Saat Khalid tiba di tempat mereka, mereka
menyambutnya. Lalu Khalid mengeluarkan instruksi, “Peluklah agama Islam!”.
“Kami adalah kaum muslimin.” Jawab mereka. “Letakkan senjata kalian dan
turunlah.” lanjut Khalid. “Tidak, demi Allah. Karena setelah senjata diletakkan
pasti ada pembunuhan. Kami tidak bisa mempercayai kamu dan orang-orang yang
bersama kamu.” jawab mereka kembali. “Tidak ada perlindungan buat kalian
kecuali jika kalian mau turun,” Kata Khalid. Akhirnya sebagian kaum menuruti
perintah Khalid dan sisanya tercerai berai.
Dalam
riwayat lain redaksinya sebagai berikut: Ketika Khalid tiba bertemu mereka,
mereka menyambutnya. Lalu Khalid bertanya, “Siapakah kalian? Apakah kaum
muslimin atau kaum kafir?”. “Kami adalah kaum muslimin yang menjalankan sholat,
membenarkan Muhammad, membangun masjid di tanah lapang kami dan mengumandangkan
adzan di dalamnya.” Jawab mereka. Dalam lafadz hadits, mereka tidak bisa
mengucapkan Aslamna, akhirnya mereka mengatakan Shoba’na Shoba’na. “Untuk apa
senjata yang kalian bawa?, tanya Khalid. “Ada permusuhan antara kami dan sebuah
kaum Arab. Oleh karena itu kami khawatir kalian adalah mereka hingga kami pun
membawa senjata.” Jawab mereka. “Letakkan senjata kalian!” Perintah Khalid.
Mereka pun mengikuti perintah Khalid untuk meletakkan senjata. “Menyerahlah
kalian semua sebagai tawanan!” Lanjut Khalid. Kemudian Khalid menyuruh sebagian
dari kaum untuk mengikat sebagian yang lain dan membagikan mereka kepada
pasukannya.
Ketika
tiba waktu pagi, juru bicara Khalid berteriak : “Siapapun yang memiliki tawanan
bunuhlah ia!”. Maka Banu Sulaim membunuh tawanan mereka. Namun kaum Muhajirin
dan Anshor menolak perintah ini. Mereka malah melepaskan para tawanan. Ketika
tindakan Khalid ini sampai kepada Nabi saw., beliau berkata, “Ya Allah, saya tidak
bertanggung jawab atas tindakan Khalid.” Beliau mengulang ucapan ini dua kali.
Ada pendapat yang
menyatakan bahwa Khalid mengira mereka mengatakan shoba’na shoba’na dengan
angkuh dan menolak tunduk kepada Islam. Hanya saja yang disesalkan Rasulullah
saw. adalah ketergesa-gesaan dan ketidakhati-hatiannya dalam menangani kasus
ini sebelum mengetahui terlebih dulu apa yang dimaksud dengan shoba’na
shoba’na. Nabi saw. sendiri pernah mengatakan: “Sebaik-baik hamba Allah adalah
saudara kabilah Qurays; Khalid ibn Walid, salah satu pedang Allah yang terhunus
untuk menghancurkan orang-orang kafir dan munafik”.
Persis seperti apa yang dialami Khalid adalah peristiwa yang menimpa Usamah ibn Zaid kekasih dan putra kekasih Rasulullah saw. berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abi Dzibyan. Abi Dzibyan berkata, “Saya mendengar Usamah ibn Zaid berkata, “Rasulullah saw. mengirim kami ke desa al-Huraqah. Kemudian kami menyerang mereka di waktu pagi dan berhasil mengalahkan mereka. Saya dan seorang laki-laki Anshar mengejar seorang laki-laki Bani Dzibyan.''
Ketika kami berdua telah mengepungnya tiba-tiba ia berkata, “La Ilaha illallah”. Ucapan laki-laki ini membuat temanku orang Anshar mengurungkan niat untuk membunuhnya namun saya menikamnya dan diapun mati. Ketika kami tiba kembali di Madinah, Nabi saw. telah mendengar informasi tentang tindakan pembunuhan yang saya lakukan. Beliau saw. pun berkata, “Wahai Usamah! Mengapa engkau membunuhnya setelah dia mengatakan La Ilaha illallah?”. “Dia hanya berpura-pura,” Jawabku. Nabi mengucapkan pertanyaannya berulang-ulang sampai-sampai saya berharap baru masuk Islam pada hari tersebut.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Usamah, “Mengapa tidak engkau robek saja hatinya agar kamu tahu apakah dia sungguh-sungguh atau berpura-pura?”. “Saya tidak akan pernah lagi membunuh siapapun yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”. Kata Usamah.
Sayyidina Ali ra. pernah ditanya mengenai kelompok-kelompok yang menentangnya, “Apakah mereka kafir?”. “Tidak,” jawab Ali, “Mereka adalah orang-orang yang menjauhi kekufuran”. “Apakah mereka kaum munafik?”. “Bukan, orang-orang munafik hanya sekelebat mengingat Allah sedang mereka banyak mengingat Allah”. “Terus siapakah mereka?” Ali kembali ditanya. “Mereka adalah kaum yang terkena fitnah yang mengakibatkan mereka buta dan tuli”, jawab Ali.
MAJAZ ‘AQLI DAN PENGGUNAANNYA
Tidak disangsikan lagi bahwa majaz ‘aqli digunakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Di antaranya pada ayat:
Persis seperti apa yang dialami Khalid adalah peristiwa yang menimpa Usamah ibn Zaid kekasih dan putra kekasih Rasulullah saw. berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abi Dzibyan. Abi Dzibyan berkata, “Saya mendengar Usamah ibn Zaid berkata, “Rasulullah saw. mengirim kami ke desa al-Huraqah. Kemudian kami menyerang mereka di waktu pagi dan berhasil mengalahkan mereka. Saya dan seorang laki-laki Anshar mengejar seorang laki-laki Bani Dzibyan.''
Ketika kami berdua telah mengepungnya tiba-tiba ia berkata, “La Ilaha illallah”. Ucapan laki-laki ini membuat temanku orang Anshar mengurungkan niat untuk membunuhnya namun saya menikamnya dan diapun mati. Ketika kami tiba kembali di Madinah, Nabi saw. telah mendengar informasi tentang tindakan pembunuhan yang saya lakukan. Beliau saw. pun berkata, “Wahai Usamah! Mengapa engkau membunuhnya setelah dia mengatakan La Ilaha illallah?”. “Dia hanya berpura-pura,” Jawabku. Nabi mengucapkan pertanyaannya berulang-ulang sampai-sampai saya berharap baru masuk Islam pada hari tersebut.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Usamah, “Mengapa tidak engkau robek saja hatinya agar kamu tahu apakah dia sungguh-sungguh atau berpura-pura?”. “Saya tidak akan pernah lagi membunuh siapapun yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”. Kata Usamah.
Sayyidina Ali ra. pernah ditanya mengenai kelompok-kelompok yang menentangnya, “Apakah mereka kafir?”. “Tidak,” jawab Ali, “Mereka adalah orang-orang yang menjauhi kekufuran”. “Apakah mereka kaum munafik?”. “Bukan, orang-orang munafik hanya sekelebat mengingat Allah sedang mereka banyak mengingat Allah”. “Terus siapakah mereka?” Ali kembali ditanya. “Mereka adalah kaum yang terkena fitnah yang mengakibatkan mereka buta dan tuli”, jawab Ali.
MAJAZ ‘AQLI DAN PENGGUNAANNYA
Tidak disangsikan lagi bahwa majaz ‘aqli digunakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Di antaranya pada ayat:
وَإِذَا
تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
"Dan apabila
dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya)". (QS.
al-Anfal:2)
Penyandaran kalimat ziyadah ke kalimat ayat adalah majaz ‘aqli. Karena ayat adalah penyebab bertambah sedang yang menambah sesungguhnya adalah Allah swt.
Penyandaran kalimat ziyadah ke kalimat ayat adalah majaz ‘aqli. Karena ayat adalah penyebab bertambah sedang yang menambah sesungguhnya adalah Allah swt.
يَوْمًا
يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا
"Hari yang
menjadikan anak-anak beruban." (QS. al-Muzzammil:17)
Penyandaran kata
ja’ala pada pada al-Yaum adalah majaz ‘aqli. Karena al-Yaum adalah tempat
mereka menjadi beruban. Kejadian tersebut tercipta pada al-Yaum sedang yang
menjadikan sesungguhnya adalah Allah swt. "Dan jangan pula suwwa`,
yaghuts, ya`uq dan nasr.
وَقَدْ
أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا
"Dan
sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia)." (QS. Nuh:23-24)
Penyandaran idhlal pada ashnam adalah majaz ‘aqli karena ashnam adalah penyebab terjadinya idhlal sedang yang memberi petunjuk dan yang menyesatkan hakikatnya Allah swt. semata. Firman Allah swt. mengisahkan Fir’aun:
"Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi." (QS. al-Mu`min:36)
Penyandaran al-Binaa kepada Haman adalah majaz ‘aqli karena Haman hanya penyebab. Ia hanya pemberi perintah tidak membangun sendiri. Yang membangun adalah para pekerja. Adapun keberadaaan majaz ‘aqli dalam hadits maka di dalamnya terdapat jumlah yang banyak yang diketahui oleh orang yang mau mengkajinya.
Para ulama berkata: "Terlontarnya penyandaran di atas dari orang yang mengesakan Allah swt. cukup menjadikannya dikategorikan sebagai penyandaran majazi karena keyakinan yang benar adalah bahwa Pencipta para hamba dan tindakan-tindakan mereka adalah Allah semata. Allah swt. adalah Pencipta para hamba dan tindakan-tindakan mereka. Tidak ada yang bisa memberikan pengaruh kecuali Allah swt. Orang hidup atau orang mati tidak bisa memberi pengaruh apapun. Keyakinan semacam ini adalah tauhid yang murni. Berbeda kalau memiliki keyakinan yang berlawanan. Maka ia bisa jatuh dalam kemusyrikan.
URGENSI MENETAPKAN KAITAN ( NISBAT ) DALAM MENETAPKAN BATASAN KUFUR DAN IMAN
Beberapa kelompok sesat hanya menggunakan pendekatan tekstual tanpa melibatkan indikasi-indikasi dan tujuan-tujuan serta tidak menggunakan titik temu yang bisa menghindari kontradiksi antar dalil-dalil yang ada seperti kelompok yang berpendapat bahwa al-Qur’an adalah makhluk dengan menggunakan argumentasi firman Allah swt.:
Penyandaran idhlal pada ashnam adalah majaz ‘aqli karena ashnam adalah penyebab terjadinya idhlal sedang yang memberi petunjuk dan yang menyesatkan hakikatnya Allah swt. semata. Firman Allah swt. mengisahkan Fir’aun:
"Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi." (QS. al-Mu`min:36)
Penyandaran al-Binaa kepada Haman adalah majaz ‘aqli karena Haman hanya penyebab. Ia hanya pemberi perintah tidak membangun sendiri. Yang membangun adalah para pekerja. Adapun keberadaaan majaz ‘aqli dalam hadits maka di dalamnya terdapat jumlah yang banyak yang diketahui oleh orang yang mau mengkajinya.
Para ulama berkata: "Terlontarnya penyandaran di atas dari orang yang mengesakan Allah swt. cukup menjadikannya dikategorikan sebagai penyandaran majazi karena keyakinan yang benar adalah bahwa Pencipta para hamba dan tindakan-tindakan mereka adalah Allah semata. Allah swt. adalah Pencipta para hamba dan tindakan-tindakan mereka. Tidak ada yang bisa memberikan pengaruh kecuali Allah swt. Orang hidup atau orang mati tidak bisa memberi pengaruh apapun. Keyakinan semacam ini adalah tauhid yang murni. Berbeda kalau memiliki keyakinan yang berlawanan. Maka ia bisa jatuh dalam kemusyrikan.
URGENSI MENETAPKAN KAITAN ( NISBAT ) DALAM MENETAPKAN BATASAN KUFUR DAN IMAN
Beberapa kelompok sesat hanya menggunakan pendekatan tekstual tanpa melibatkan indikasi-indikasi dan tujuan-tujuan serta tidak menggunakan titik temu yang bisa menghindari kontradiksi antar dalil-dalil yang ada seperti kelompok yang berpendapat bahwa al-Qur’an adalah makhluk dengan menggunakan argumentasi firman Allah swt.:
إِنَّا
جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا
"Sesungguhnya
Kami menjadikan al-Quran dalam bahasa Arab." (QS. az-Zukhruf:3)
Kelompok
Qadariyyah (free will) yang menggunakan ayat:
فَبِمَا
كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
"Maka adalah
disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (QS. asy-Syura:30)
بِمَا
كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
"Apa yang
telah kamu kerjakan." (QS. Yunus:23)
Kelompok Jabariyah
yang berpegang teguh dengan ayat:
وَاللَّهُ
خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
"Padahal
Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu."(QS.
ash-Shaffat:96)
وَمَا
رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى
"Dan bukan
kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang
melempar." (QS. al-Anfaal:17)
Untuk menyingkap maksud dari firman Allah swt. di muka bahwa sesungguhnya semua kelompok ummat Islam di luar kelompok Qadariyyah meyakini bahwa semua tindakan para hamba adalah diciptakan Allah swt. berdasarkan ayat:
Untuk menyingkap maksud dari firman Allah swt. di muka bahwa sesungguhnya semua kelompok ummat Islam di luar kelompok Qadariyyah meyakini bahwa semua tindakan para hamba adalah diciptakan Allah swt. berdasarkan ayat:
وَاللَّهُ
خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُون dan
ayat وَمَا
رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى
Meskipun
tindakan itu bisa dilekatkan kepada hamba dengan menggunakan pendekatan lain
yang disebut iktisab (bekerja) seperti dalam firman Allah swt.:
لَهَا
مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
"Ia mendapat
pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya." (QS. al-Baqarah:286)
Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan penyandaran kerja kepada hamba. Keterkaitan qudrat dengan al-Maqdur (obyek dari sifat qudrat) tidak harus melalui penciptaan semata karena qudrat Allah pada masa 'azali berkaitan dengan alam sebelum Allah menciptakannya. Dan qudrat Allah ketika menciptakan alam berkaitan dengan alam dalam corak keterkaitan lain.
ESENSI MENISBATKAN TINDAKAN KEPADA PARA HAMBA
Berangkat dari keterkaitan qudrat di atas jelaslah bahwa keterkaitan qudrat tidak hanya dengan terjadinya al-maqdur lewat sifat ini. Hubungan tindakan makhluk dengan mereka sendiri dengan cara mengerjakan bukan penciptaan. Karena Allah swt. yang menciptakan, mentakdirkan dan menghendakinya. Tidak perlu dipersoalkan bagaimana Allah swt. menghendaki apa yang Dia larang, karena perintah berbeda dengan kehendak dengan bukti Allah swt. menyuruh semua manusia untuk beriman namun Allah swt. tidak menghendaki semuanya beriman. Hal ini berdasarkan firman Allah swt.:
Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan penyandaran kerja kepada hamba. Keterkaitan qudrat dengan al-Maqdur (obyek dari sifat qudrat) tidak harus melalui penciptaan semata karena qudrat Allah pada masa 'azali berkaitan dengan alam sebelum Allah menciptakannya. Dan qudrat Allah ketika menciptakan alam berkaitan dengan alam dalam corak keterkaitan lain.
ESENSI MENISBATKAN TINDAKAN KEPADA PARA HAMBA
Berangkat dari keterkaitan qudrat di atas jelaslah bahwa keterkaitan qudrat tidak hanya dengan terjadinya al-maqdur lewat sifat ini. Hubungan tindakan makhluk dengan mereka sendiri dengan cara mengerjakan bukan penciptaan. Karena Allah swt. yang menciptakan, mentakdirkan dan menghendakinya. Tidak perlu dipersoalkan bagaimana Allah swt. menghendaki apa yang Dia larang, karena perintah berbeda dengan kehendak dengan bukti Allah swt. menyuruh semua manusia untuk beriman namun Allah swt. tidak menghendaki semuanya beriman. Hal ini berdasarkan firman Allah swt.:
وَمَا
أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
"Dan
sebahagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat
menginginkannya." (QS. Yusuf:103)
Penisbatan tindakan kepada makhluk masuk kategori penisbatan musabbab (obyek yang terkena pengaruh sebab) kepada sabab (penyebab) atau wasithah (perantara). Hal ini bukanlah sebuah kontradiksi karena yang menjadi penyebab dari segala sebab adalah Pencipta washithah yang menciptakan makna keperantaraan kepada washithah. Seandainya Allah swt. tidak memberi makna keperantaraan terhadap segala sebab maka segala sebab itu tidak layak menjadi washithah baik sebab yang tidak diberi akal oleh Allah swt. seperti benda mati, cakrawala, hujan dan api atau sebab yang berakal seperti malaikat, manusia, atau jin.
PERBEDAAN ARTI AKIBAT PERBEDAAAN NISBAT LAFADH
Barangkali Anda berkata: Tidaklah rasional menisbatkan satu tindakan kepada dua pelaku karena mustahil berkumpulnya dua hal yang mampu memberikan pengaruh kepada satu obyek yang terkena pengaruh. Kami jawab, “Benar pandangan kalian. Namun konteksnya jika pelaku hanya memiliki satu pengertian dalam penggunaannya”. Tapi jika pelaku memiliki dua pengertian maka kalimat tersebut ada kemungkinan digunakan untuk salah satunya.
Kalau demikian tidak boleh kalimat itu digunakan untuk kedua-duanya sebagaimana telah diketahui dalam penggunaan kalimat yang memiliki lebih dari satu pengertian (musytarak/ambigu) atau hakikat dan majaz sebagaimana ungkapan: Pemimpin membunuh si fulan dan ungkapan: Si fulan dibunuh oleh algojo. Kata membunuh yang dinisbatkan kepada pemimpin memiliki pengertian yang berbeda dengan kata yang sama yang dinisbatkan kepada algojo. Maka ungkapan kita: Allah swt. adalah pelaku dengan pengertian Dia adalah pencipta yang membuat sesuatu menjadi ada dan ungkapan kita: Sesungguhnya makhluk adalah pelaku, artinya adalah bahwa makhluk adalah obyek yang Allah ciptakan padanya kemampuan setelah menciptakan padanya kehendak dan pengetahuan.
Berarti hubungan qudrat dengan iradat serta gerakan dengan qudrat adalah hubungan kausalitas dan yang diciptakan dengan yang menciptakan. Hubungan semacam ini berlaku jika obyeknya adalah makhluk berakal. Namun jika tidak berakal ia termasuk kategori mengaitkan yang disebabi atas yang menjadi penyebab.
Penisbatan tindakan kepada makhluk masuk kategori penisbatan musabbab (obyek yang terkena pengaruh sebab) kepada sabab (penyebab) atau wasithah (perantara). Hal ini bukanlah sebuah kontradiksi karena yang menjadi penyebab dari segala sebab adalah Pencipta washithah yang menciptakan makna keperantaraan kepada washithah. Seandainya Allah swt. tidak memberi makna keperantaraan terhadap segala sebab maka segala sebab itu tidak layak menjadi washithah baik sebab yang tidak diberi akal oleh Allah swt. seperti benda mati, cakrawala, hujan dan api atau sebab yang berakal seperti malaikat, manusia, atau jin.
PERBEDAAN ARTI AKIBAT PERBEDAAAN NISBAT LAFADH
Barangkali Anda berkata: Tidaklah rasional menisbatkan satu tindakan kepada dua pelaku karena mustahil berkumpulnya dua hal yang mampu memberikan pengaruh kepada satu obyek yang terkena pengaruh. Kami jawab, “Benar pandangan kalian. Namun konteksnya jika pelaku hanya memiliki satu pengertian dalam penggunaannya”. Tapi jika pelaku memiliki dua pengertian maka kalimat tersebut ada kemungkinan digunakan untuk salah satunya.
Kalau demikian tidak boleh kalimat itu digunakan untuk kedua-duanya sebagaimana telah diketahui dalam penggunaan kalimat yang memiliki lebih dari satu pengertian (musytarak/ambigu) atau hakikat dan majaz sebagaimana ungkapan: Pemimpin membunuh si fulan dan ungkapan: Si fulan dibunuh oleh algojo. Kata membunuh yang dinisbatkan kepada pemimpin memiliki pengertian yang berbeda dengan kata yang sama yang dinisbatkan kepada algojo. Maka ungkapan kita: Allah swt. adalah pelaku dengan pengertian Dia adalah pencipta yang membuat sesuatu menjadi ada dan ungkapan kita: Sesungguhnya makhluk adalah pelaku, artinya adalah bahwa makhluk adalah obyek yang Allah ciptakan padanya kemampuan setelah menciptakan padanya kehendak dan pengetahuan.
Berarti hubungan qudrat dengan iradat serta gerakan dengan qudrat adalah hubungan kausalitas dan yang diciptakan dengan yang menciptakan. Hubungan semacam ini berlaku jika obyeknya adalah makhluk berakal. Namun jika tidak berakal ia termasuk kategori mengaitkan yang disebabi atas yang menjadi penyebab.
Berarti sah-sah
saja menyebut setiap hal yang memiliki kaitan dengan qudrat sebagai fa’il
(pelaku) bagaimanapun bentuk kaitannya. Sebagaimana algojo dan penguasa bisa
disebut pembunuh dengan memandang dari sudut masing-masing. Karena pembunuhan
berkaitan dengan keduanya. Meskipun pembunuhan dilihat dari dua sisi pandang
berbeda namun masing-masing algojo dan penguasa bisa disebut pembunuh. Demikian
pula dalam hal menilai obyek-obyek dari qudrat dengan dua qudrat.
Dalil yang menunjukkan diperbolehkan menisbatkan hal-hal di muka dan relevansinya adalah bahwa Allah swt. sendiri kadang menisbatkan tindakan kepada para malaikat dan terkadang kepada yang lain dan terkadang menisbatkannya kepada diriNya sendiri.
Dalil yang menunjukkan diperbolehkan menisbatkan hal-hal di muka dan relevansinya adalah bahwa Allah swt. sendiri kadang menisbatkan tindakan kepada para malaikat dan terkadang kepada yang lain dan terkadang menisbatkannya kepada diriNya sendiri.
Allah swt.
berfirman:
قُلْ
يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ
"Katakanlah:
"Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan
mematikanmu." (QS. as-Sajdah:11)
اللَّهُ
يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا
"Allah
memegang jiwa (seseorang) ketika matinya." (QS. az-Zumar:42)
أَفَرَأَيْتُمْ
مَا تَحْرُثُونَ
"Maka
terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam." (QS. al-Waqi`ah:63).
Dengan dinisbatkan kepada mereka.
أَنَّا
صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا فَأَنْبَتْنَا فِيهَا
حَبًّا
"Sesungguhnya
Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). Kemudian Kami belah bumi
dengan sebaik-baiknya. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu."
(QS.`Abasa:25-27)
فَأَرْسَلْنَا
إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
"Lalu Kami
mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk)
manusia yang sempurna." (QS. Maryam:17)
فَنَفَخْنَا
فِيهَا مِنْ رُوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آَيَةً لِلْعَالَمِينَ
"Lalu Kami
tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya
tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam." (QS.
al-Anbiya`:91). Nafkh (tiupan) disandarkan kepada Allah padahal yang meniup
sesungguhnya adalah Jibril as. Allah swt. berfirman:
فَإِذَا
قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآَنَهُ
"Apabila Kami
telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu."(QS.
al-Qiyamah:18) padahal pembaca al-Qur’an yang didengar bacaannya oleh Nabi
Muhammad saw. adalah Jibril.
Allah swt.
berfirman:
فَلَمْ
تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ
وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى
"Maka (yang
sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh
mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang
melempar." (QS. al-Anfal:17)
Allah meniadakan tindakan pembunuhan dari mereka dan menetapkan tindakan itu kepada diriNya dan menafikan tindakan pelemparan darinya lalu menyandarkannya kepada diriNya.
Maksud dari ayat bukan berarti menafikan fakta kasat mata tindakan mereka membunuh orang-orang kafir dan menafikan tindakan Nabi melempari mereka dengan kerikil. Namun maksudnya adalah bahwa mereka tidak membunuh dan melempar dalam pengertian sebagaimana Allah membunuh dan melempar yaitu penciptaan dan kepastian. Sebab kedua pengertian ini adalah dua makna yang memiliki arti berbeda.
Allah meniadakan tindakan pembunuhan dari mereka dan menetapkan tindakan itu kepada diriNya dan menafikan tindakan pelemparan darinya lalu menyandarkannya kepada diriNya.
Maksud dari ayat bukan berarti menafikan fakta kasat mata tindakan mereka membunuh orang-orang kafir dan menafikan tindakan Nabi melempari mereka dengan kerikil. Namun maksudnya adalah bahwa mereka tidak membunuh dan melempar dalam pengertian sebagaimana Allah membunuh dan melempar yaitu penciptaan dan kepastian. Sebab kedua pengertian ini adalah dua makna yang memiliki arti berbeda.
Kadangkala Allah
swt. menisbatkan tindakan kepada diriNya dan Nabi Muhammad saw. secara
bersamaan sebagaimana firman Allah swt.:
وَلَوْ
أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آَتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ
سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ
"Jikalau
mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya
kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan
memberikan sebagian dari karuniaNya dan demikian (pula) RasulNya, Sesungguhnya
kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah" (tentulah yang
demikian itu lebih baik bagi mereka)." (QS. at-Taubah:59)
Sayyidah ‘Aisyah rha. meriwayatkan bahwa Allah swt. jika berkehendak menciptakan janin maka Allah swt. mengutus malaikat. Lalu malaikat memasuki rahim dan memungut sperma dengan tangannya kemudian membentuknya sebagai jasad. Malaikat bertanya, “Wahai Tuhanku, laki-laki atau perempuan jenis kelamin janin ini dan apakah ia normal atau cacat ?”. Lalu Allah menetapkan janin sesuai dengan kehendakNya dan malaikat pun membentuknya. Dalam versi lain: Malaikat membentuk janin dan meniupkan nyawa padanya sebagai janin yang mendapat bahagia atau celaka.
Jika Anda memahami keterangan di atas maka jelaslah bagi Anda bahwa tindakan digunakan dalam arti beragam dan tidak kontradiktif. Karena itu tindakan adakalanya disandarkan kepada benda mati seperti dalam firman Allah swt.:
Sayyidah ‘Aisyah rha. meriwayatkan bahwa Allah swt. jika berkehendak menciptakan janin maka Allah swt. mengutus malaikat. Lalu malaikat memasuki rahim dan memungut sperma dengan tangannya kemudian membentuknya sebagai jasad. Malaikat bertanya, “Wahai Tuhanku, laki-laki atau perempuan jenis kelamin janin ini dan apakah ia normal atau cacat ?”. Lalu Allah menetapkan janin sesuai dengan kehendakNya dan malaikat pun membentuknya. Dalam versi lain: Malaikat membentuk janin dan meniupkan nyawa padanya sebagai janin yang mendapat bahagia atau celaka.
Jika Anda memahami keterangan di atas maka jelaslah bagi Anda bahwa tindakan digunakan dalam arti beragam dan tidak kontradiktif. Karena itu tindakan adakalanya disandarkan kepada benda mati seperti dalam firman Allah swt.:
تُؤْتِي
أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا
"Pohon itu
memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya."(QS.
Ibrahim:25) padahal pohon tidak bisa memberikan buah dengan sendirinya.
Sebagaimana halnya
sabda Nabi saw. kepada orang yang memberikan beliau sebuah kurma:
خذها
لو لم تأتها لأتتك
"Ambillah
kurma itu. Jika engkau tidak mendatanginya maka kurma itu akan datang kepadamu
" (HR. Thabrani dan Ibnu Hibban).
Penyandaran kata ityan (datang) berbeda pengertian antara yang disandarkan kepada seorang laki-laki dan kurma. Maksud dari datangnya kurma berbeda dengan datangnya laki-laki.
Pengertian datang dari keduanya adalah dua majaz yang berbeda sudut pandangnya. Kemajazan penyebutan kedatangan kepada laki-laki bermakna bahwa Allah menciptakan padanya kemampuan dan kehendak untuk datang pada kurma. Sedang kedatangan kurma bermakna bahwa Allah swt. akan membuat seseorang sebagai penyebab datangnya kurma.
Yang sesungguhnya adalah menyandarkan mendatangkan kepada Allah pada keduanya. Karena perbedaan sudut pandang dalam perantara maka memandang perantara dalam tindakan terkadang bisa mengakibatkan kekufuran sebagaimana jawaban Qarun terhadap Nabi Musa as. Qarun berkata:
Penyandaran kata ityan (datang) berbeda pengertian antara yang disandarkan kepada seorang laki-laki dan kurma. Maksud dari datangnya kurma berbeda dengan datangnya laki-laki.
Pengertian datang dari keduanya adalah dua majaz yang berbeda sudut pandangnya. Kemajazan penyebutan kedatangan kepada laki-laki bermakna bahwa Allah menciptakan padanya kemampuan dan kehendak untuk datang pada kurma. Sedang kedatangan kurma bermakna bahwa Allah swt. akan membuat seseorang sebagai penyebab datangnya kurma.
Yang sesungguhnya adalah menyandarkan mendatangkan kepada Allah pada keduanya. Karena perbedaan sudut pandang dalam perantara maka memandang perantara dalam tindakan terkadang bisa mengakibatkan kekufuran sebagaimana jawaban Qarun terhadap Nabi Musa as. Qarun berkata:
قَالَ
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
"Sesungguhnya
aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku. "(QS.
al-Qashash:78)
Dan sebagaimana
dalam hadits :
أَصْبَحَ
مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ
اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ ، وَأَمَّا
مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى وَمُؤْمِنٌ
بِالْكَوْكَبِ
"Sebagian
hamba-Ku, di pagi hari ada yang beriman kepadaKu dan kafir”. Adapun yang
berkata: "Kami disirami hujan berkat anugerah dan rahmat Allah maka ia
beriman kepadaKu dan kufur kepada bintang". Sebaliknya orang yang berkata:
"Kami disirami hujan berkat bintang ini atau itu maka ia kafir kepadaKu
dan beriman kepada bintang".
Kekufuran ini terjadi karena memandang perantara sebagai yang memberikan pengaruh dan yang menciptakan. Imam an-Nawawi berkata: pendapat para ulama terbelah menjadi dua menyangkut kekufuran orang yang mengatakan: "Kami disirami hujan berkat bintang ini."
Pendapat pertama: menyatakan bahwa perkataan ini adalah kekufuran kepada Allah swt. dan mencabut dasar keimanan serta dapat mengeluarkan dari agama Islam. Dalam pandangan ulama kekufuran bisa terjadi atas mereka yang mengatakan perkataan tersebut seraya meyakini bahwa bintang adalah pelaku, pengatur dan pencipta hujan sebagaimana anggapan sebagian kaum jahiliyyah. Siapapun yang memiliki keyakinan semacam ini maka tidak disangsikan lagi telah kafir. Ini adalah pandangan mayoritas ulama di antaranya Imam asy-Syafi’i dan sesuai dengan makna literal dalam hadits. Karena itu, dalam pandangan mereka seandainya mengatakan: "Kami disirami hujan berkat bintang ini." dengan tetap meyakini bahwa hujan itu dari dan berkat rahmat Allah swt. sedang bintang cuma dianggap sebagai waktu dan ciri berdasarkan kebiasaan maka seolah-olah ia mengatakan: "Kami disirami hujan pada waktu bintang ini", berarti ia tidak kufur. Para ulama berbeda pendapat menyangkut kemakruhan perkataan: "Kami disirami hujan berkat bintang ini". Namun kemakruhan ini sebatas makruh tanzih yang tidak berimplikasi dosa. Penyebab kemakruhan adalah karena kalimat ini berada dalam posisi kufur dan tidak, yang bisa berdampak sangkaan buruk bagi pengucapnya. Dan juga ia adalah lambang jahiliyyah dan mereka yang meniru cara hidup jahiliyyah.
Pendapat kedua: Pada dasarnya penafsiran hadits Nabi saw. menyatakan bahwa kufur terhadap nikmat Allah swt. sebab membatasi terjadinya hujan terhadap bintang. Kufur nikmat ini berlaku bagi orang yang tidak meyakini peranan bintang. Penafsiran ini didukung oleh riwayat terakhir pada bab ini, "Sebagian orang, di pagi hari ada yang bersyukur dan ada yang kufur". Dalam riwayat lain, Allah tidak menurunkan berkah dari langit kecuali sebagian manusia mengkufuri terhadap berkah itu. Kata biha (terhadap berkah itu) menunjukkan kekufuran yang terjadi adalah kufur nikmat. Wallahu a’lam.
Anda bisa melihat bahwa Imam an-Nawawi menyatakan adanya konsensus ulama bahwa siapapun yang menisbatkan tindakan kepada perantara tidak berdampak kufur kecuali disertai keyakinan bahwa perantara itu yang bertindak sebagai pelaku, pengatur dan pencipta. Namun jika perantara tidak dilihat demikian namun hanya menganggap perantara adalah ciri atau tempat terjadinya penciptaan yang telah ditakdirkan maka vonis kufur tidak jatuh. Syara’ malah kadang mengajak untuk memandang perantara sebagaimana sabda Nabi saw.:
Kekufuran ini terjadi karena memandang perantara sebagai yang memberikan pengaruh dan yang menciptakan. Imam an-Nawawi berkata: pendapat para ulama terbelah menjadi dua menyangkut kekufuran orang yang mengatakan: "Kami disirami hujan berkat bintang ini."
Pendapat pertama: menyatakan bahwa perkataan ini adalah kekufuran kepada Allah swt. dan mencabut dasar keimanan serta dapat mengeluarkan dari agama Islam. Dalam pandangan ulama kekufuran bisa terjadi atas mereka yang mengatakan perkataan tersebut seraya meyakini bahwa bintang adalah pelaku, pengatur dan pencipta hujan sebagaimana anggapan sebagian kaum jahiliyyah. Siapapun yang memiliki keyakinan semacam ini maka tidak disangsikan lagi telah kafir. Ini adalah pandangan mayoritas ulama di antaranya Imam asy-Syafi’i dan sesuai dengan makna literal dalam hadits. Karena itu, dalam pandangan mereka seandainya mengatakan: "Kami disirami hujan berkat bintang ini." dengan tetap meyakini bahwa hujan itu dari dan berkat rahmat Allah swt. sedang bintang cuma dianggap sebagai waktu dan ciri berdasarkan kebiasaan maka seolah-olah ia mengatakan: "Kami disirami hujan pada waktu bintang ini", berarti ia tidak kufur. Para ulama berbeda pendapat menyangkut kemakruhan perkataan: "Kami disirami hujan berkat bintang ini". Namun kemakruhan ini sebatas makruh tanzih yang tidak berimplikasi dosa. Penyebab kemakruhan adalah karena kalimat ini berada dalam posisi kufur dan tidak, yang bisa berdampak sangkaan buruk bagi pengucapnya. Dan juga ia adalah lambang jahiliyyah dan mereka yang meniru cara hidup jahiliyyah.
Pendapat kedua: Pada dasarnya penafsiran hadits Nabi saw. menyatakan bahwa kufur terhadap nikmat Allah swt. sebab membatasi terjadinya hujan terhadap bintang. Kufur nikmat ini berlaku bagi orang yang tidak meyakini peranan bintang. Penafsiran ini didukung oleh riwayat terakhir pada bab ini, "Sebagian orang, di pagi hari ada yang bersyukur dan ada yang kufur". Dalam riwayat lain, Allah tidak menurunkan berkah dari langit kecuali sebagian manusia mengkufuri terhadap berkah itu. Kata biha (terhadap berkah itu) menunjukkan kekufuran yang terjadi adalah kufur nikmat. Wallahu a’lam.
Anda bisa melihat bahwa Imam an-Nawawi menyatakan adanya konsensus ulama bahwa siapapun yang menisbatkan tindakan kepada perantara tidak berdampak kufur kecuali disertai keyakinan bahwa perantara itu yang bertindak sebagai pelaku, pengatur dan pencipta. Namun jika perantara tidak dilihat demikian namun hanya menganggap perantara adalah ciri atau tempat terjadinya penciptaan yang telah ditakdirkan maka vonis kufur tidak jatuh. Syara’ malah kadang mengajak untuk memandang perantara sebagaimana sabda Nabi saw.:
من
أسدى إليكم معروفا فكافئوه فان لم تستطيعوا فادعوا له حتى تعلموا أنكم قد كافأتموه
"Siapapun
yang memberi kebaikan kepada Anda maka balaslah ia. Jika Anda tidak mampu
membalasnya maka doakanlah ia sampai kalian menyadari telah membalas
kebaikannya."
Dan sabda Nabi
yang lain:
مَنْ
لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ
"Siapa yang tidak
bersyukur kepada manusia, ia tidak akan bersyukur kepada Allah."
Ajakan
syara’ ini berdasarkan pertimbangan bahwa memandang perantara dari sudut
pandang demikian tidak berarti meniadakan anugerah dari Allah swt. Banyak ayat
di mana Allah swt. memberikan pujian atas perbuatan baik para hambaNya dan
malah memberi mereka pahala atas perbuatan tersebut. Allah swt. adalah Dzat
yuang mendorong mereka berbuat baik dan menciptakan kemampuan mereka untuk
mengerjakannya. Allah swt. berfirman:
نِعْمَ
الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
"Dia adalah
sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada
Tuhannya)." (QS. Shaad:30)
لِلَّذِينَ
أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ
"Bagi
orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan
tambahannya." (QS. Yunus:26)
قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
"Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu" (Q.S. asy-Syams:9)
Jika
telah jelas di mata Anda bahwa tindakan (al-fi’lu) dapat digunakan dalam
beragam makna maka makna-makna tersebut tidaklah berbenturan jika dipahami
dengan jernih. Makna-makna yang terkandung dalam ungkapan lebih luas dari
ungkapan itu sendiri dan hati lebih luas dari buku-buku yang dikarang. Jika
kita terpaku pada lafadz dalam arti hakiki tanpa memandang majaz maka kita
tidak akan mampu mengkompromikan antara teks-teks atau membedakannya. Silahkan
Anda perhatikan informasi yang disampaikan Allah swt. tentang Nabi Ibrahim as.
dalam:
رَبِّ
إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ
Apakah Anda
menilai Nabi Ibrahim as. menyekutukan Allah swt. dengan benda mati? Padahal
beliaulah yang bertanya:
أَتَعْبُدُونَ
مَا تَنْحِتُونَ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
Kompromi terhadap dua ayat ini adalah bahwa siapapun yang menyekutukan Allah swt. dengan yang lain dalam segi penciptaan dan memberikan pengaruh maka ia telah musyrik baik obyek lain itu benda mati atau manusia, baik Nabi atau bukan. Dan barangsiapa yang meyakini adanya penyebab dalam hal di atas baik penyebab itu berlaku secara umum atau tidak kemudian menjadikan Allah swt. sebagai penyebab atas terjadinya musabbab dan bahwa pelakunya (al-fa’il) adalah Allah semata tidak ada yang menyukutui maka ia adalah seorang mukmin meskipun salah dalam menilai apa yang bukan sebab dianggap sebagai sebab. Karena kesalahannya terletak pada sebab bukan pada yang menciptakan sebab yang notabene adalah Sang Pencipta dan Pengatur swt.
Kompromi terhadap dua ayat ini adalah bahwa siapapun yang menyekutukan Allah swt. dengan yang lain dalam segi penciptaan dan memberikan pengaruh maka ia telah musyrik baik obyek lain itu benda mati atau manusia, baik Nabi atau bukan. Dan barangsiapa yang meyakini adanya penyebab dalam hal di atas baik penyebab itu berlaku secara umum atau tidak kemudian menjadikan Allah swt. sebagai penyebab atas terjadinya musabbab dan bahwa pelakunya (al-fa’il) adalah Allah semata tidak ada yang menyukutui maka ia adalah seorang mukmin meskipun salah dalam menilai apa yang bukan sebab dianggap sebagai sebab. Karena kesalahannya terletak pada sebab bukan pada yang menciptakan sebab yang notabene adalah Sang Pencipta dan Pengatur swt.
MENGAGUNGKAN
ANTARA IBADAH DAN ETIKA
Banyak
orang keliru dalam memahami substansi pengagungan dan ibadah. Mereka mencampur
kedua substansi ini dan menganggap bahwa apapun bentuk pengagungan berarti
ibadah kepada yang diagungkan. Berdiri, mencium tangan, mengagungkan Nabi saw.
dengan kata Sayyidina dan Maulana, dan berdiri di depan beliau saat berziarah
dengan sopan santun; semua ini tindakan berlebihan di mata mereka yang bisa
mengarah kepada penyembahan selain Allah swt.
Pandangan
ini sesungguhnya adalah pandangan bodoh dan membingungkan yang tidak diridloi
Allah swt. dan Rasulullah saw. serta menyusahkan diri sendiri yang tidak sesuai
dengan spirit Syari’at Islamiyyah. Nabi Adam as. manusia pertama dan hamba
Allah swt. yang shalih yang pertama dari jenis manusia, oleh Allah malaikat
diperintahkan untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk penghargaan dan
pengagungan atas ilmu pengetahuan yang diberikan Allah swt. kepada Nabi Adam
as. dan sebagai proklamasi kepada para malaikat atas dipilihnya Nabi Adam as.
bukan para makhluk lain.
Allah swt.
berfirman:
وَإِذْ
قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ
أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ
عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ
ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا
"Dan
(ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu
semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali Iblis. Dia berkata:
"Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?"
Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau
muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai
hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali
sebahagian kecil" (QS. al-Isra':61-62)
Dalam ayat lain
Allah swt. berfirman:
قَالَ
أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
"Menjawab
iblis: "Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang
dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. al-A`raf:12)
فَسَجَدَ
الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى أَنْ يَكُونَ مَعَ
السَّاجِدِينَ
"Maka
bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. ia enggan
ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu." (QS. al-Hijr:30-31)
Para malaikat mengagungkan makhluk yang diagungkan Allah swt. dan iblis menolak untuk sujud kepada makhluk yang tercipta dari tanah. Iblis adalah yang pertama kali menggunakan analogi dengan akalnya dan berkata: "Saya lebih baik dari Adam", dengan alasan karena ia tercipta dari api sedang Adam dari tanah. Ia enggan menghormati Adam dan menolak bersujud kepadanya.
Iblis adalah makhluk angkuh pertama dan menolak mengagungkan makhluk yang diagungkan Allah swt. akhirnya ia dijauhkan dari rahmat Allah swt. karena keangkuhannya pada Adam yang shalih. Sikap iblis pada dasarnya adalah keangkuhan kepada Allah swt. karena sujud kepada Adam semata-mata atas perintah Allah swt. Sujud kepada Adam hanyalah sebagai bentuk penghormatan kepadanya atas para malaikat. Iblis adalah makhluk yang mengesakan Allah swt. namun ketauhidannya tidak berguna sama sekali akibat menolak bersujud kepada Adam.
Para malaikat mengagungkan makhluk yang diagungkan Allah swt. dan iblis menolak untuk sujud kepada makhluk yang tercipta dari tanah. Iblis adalah yang pertama kali menggunakan analogi dengan akalnya dan berkata: "Saya lebih baik dari Adam", dengan alasan karena ia tercipta dari api sedang Adam dari tanah. Ia enggan menghormati Adam dan menolak bersujud kepadanya.
Iblis adalah makhluk angkuh pertama dan menolak mengagungkan makhluk yang diagungkan Allah swt. akhirnya ia dijauhkan dari rahmat Allah swt. karena keangkuhannya pada Adam yang shalih. Sikap iblis pada dasarnya adalah keangkuhan kepada Allah swt. karena sujud kepada Adam semata-mata atas perintah Allah swt. Sujud kepada Adam hanyalah sebagai bentuk penghormatan kepadanya atas para malaikat. Iblis adalah makhluk yang mengesakan Allah swt. namun ketauhidannya tidak berguna sama sekali akibat menolak bersujud kepada Adam.
Salah satu firman
Allah swt. yang menjelaskan pengagungan terhadap orang-orang sholih adalah
firman Allah swt. menyangkut Nabi Yusuf as.:
وَرَفَعَ
أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا
"Dan ia
menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya)
merebahkan diri seraya sujud. " (QS. Yusuf:100)
Sujud ini adalah
sujud sebagai ungkapan penghargaan dan pemuliaan terhadap Yusuf atas
saudara-saudaranya.
Sujud
menyentuh tanah yang dilakukan saudara-saudara Yusuf ditunjukkan oleh kalimat
" وَخَرُّوا" barangkali
dalam syari’at saudara-saudara Yusuf sujud dalam bentuk seperti ini
diperbolehkan atau seperti sujud para malaikat kepada Adam untuk memuliakan,
mengagungkan, dan mematuhi perintah Allah swt. sebagai penafsiran terhadap
mimpi Yusuf di mana mimpi para Nabi berstatus wahyu.
Adapun Nabi
Muhammad saw. maka Allah swt. telah berfirman: "Sesungguhnya Kami mengutus
kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,9. Supaya
kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya,
membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang."
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ
النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ
تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ
أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ
قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ إِنَّ الَّذِينَ
يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului
Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya
dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap
sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak
menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah
mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk
bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. Sesungguhnya orang-orang
yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti."
(QS. al-Hujurat:1-4)
لَا
تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ
يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ
الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ
" Janganlah
kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu
kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah swt. telah mengetahui
orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung
(kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut
akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. an-Nur:63)
Ketika berhadapan dengan Rasulullah saw. Allah swt. melarang berbicara mendahului beliau dan bersikap tidak sopan dengan mendahului berbicara. Sahl ibn Abdillah berkata, "Janganlah kamu berkata sebelum Rasulullah saw. berkata, dan jika beliau berkata maka dengarkanlah dan perhatikanlah." Para sahabat dilarang untuk mendahului dan tergesa-gesa memenuhi keinginannya sebelum keinginan Rasulullah saw. terpenuhi dan dilarang mengeluarkan fatwa apapun baik perang atau urusan lain yang menyangkut agama tanpa perintah Nabi saw. dan juga tidak boleh mendahului beliau.
Ketika berhadapan dengan Rasulullah saw. Allah swt. melarang berbicara mendahului beliau dan bersikap tidak sopan dengan mendahului berbicara. Sahl ibn Abdillah berkata, "Janganlah kamu berkata sebelum Rasulullah saw. berkata, dan jika beliau berkata maka dengarkanlah dan perhatikanlah." Para sahabat dilarang untuk mendahului dan tergesa-gesa memenuhi keinginannya sebelum keinginan Rasulullah saw. terpenuhi dan dilarang mengeluarkan fatwa apapun baik perang atau urusan lain yang menyangkut agama tanpa perintah Nabi saw. dan juga tidak boleh mendahului beliau.
Kemudian Allah swt. memperingatkan mereka untuk tidak melanggar larangan di atas :
وَاتَّقُواْ
اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui." (QS. al-Hujurat:1)
Berkata
as-Silmi: "Takutlah kepada Allah, jangan sampai menelantarkan hak Allah
dan menyia-nyiakan hal-hal yang diharamkanNya karena Dia mendengar ucapan
kalian dan mengetahui tindakan kalian."
Selanjutnya Allah
melarang mengeraskan suara melebihi suara beliau dan berbicara keras kepada
beliau sebagaimana mereka berbicara kepada sesamanya. Versi lain mengatakan,
sebagaimana kalian saling memanggil dengan menggunakan nama.
Abu
Muhammad Makki mengatakan: "Janganlah kalian berkata sebelum beliau,
mengeraskan ucapan dan memanggi beliau dengan namanya sebagaimana panggilan
kalian dengan sesamanya." Tapi agungkanlah dan hormatilah dan panggillah
beliau dengan panggilan paling mulia yang beliau senang dengan panggilan
tersebut yaitu wahai Rasulullah dan wahai Nabiyyallah. Pandangan Abu Muhammad
Makki ini sebagaimana firman Allah swt. QS. an-Nur:63 di atas.
Ulama
lain menafsirkan: "Jangan berkata kepada beliau kecuali bertanya.
Selanjutnya Allah swt. memperingatkan bahwa amal perbuatan mereka akan hangus
jika melanggar larangan di muka. Ayat di atas turun dilatarbelakangi oleh
peristiwa ketika sekelompok orang datang kepada Nabi saw. dan memanggil beliau
dengan: "Wahai Muhammad, keluarlah untuk menemui kami". Lalu Allah
swt. pun mengecam tindakan mereka sebagai kebodohan dan menggambarkan bahwa
kebanyakan mereka tidak berakal.
Amr
ibn Ash berkata: "Tidak ada orang yang lebih kucintai melebihi Rasulullah
saw. dan di mataku tidak ada yang lebih agung melebihi beliau. Saya tidak mampu
memandang beliau dengan mata terbuka lebar semata-mata karena menghormatinya.
Jika saya ditanya untuk mensifati beliau saya tidak akan mampu menjawab sebab
saya tidak mampu memandang beliau dengan mata terbuka lebar. (HR. Muslim dalam
Kitab al-Iman, bab Kaun al-Islam Yahdimu ma Qablahu).
Turmudzi
meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah saw. keluar menemui sahabat Muhajirin
dan Anshor yang sedang duduk. Di antara mereka terdapat Abu Bakar dan Umar.
Tidak ada yang berani memandang beliau dengan wajah terangkat kecuali Abu Bakar
dan Umar. Keduanya memandang beliau dan beliau memandang keduanya dan mereka
berdua tersenyum kepada beliau dan beliau juga tersenyum kepada mereka.
Usamah ibn Syuraik
meriwayatkan : "Saya datang kepada Nabi saw. yang dikelilingi para sahabat
yang seolah-olah di atas kepala mereka dihinggapi burung".
Dalam mensifati
beliau : "Jika berbicara para pendengar yang duduk di sekeliling beliau
akan menundukkan kepala seolah-olah di atas kepala mereka dihinggapi
burung."
Saat
Urwah ibn Mas’ud menjadi duta Qurays waktu mengadakan perjanjian datang kepada
Rasulullah saw. dan melihat penghormatan para sahabat kepada beliau saw. Ia
melihat jika beliau saw. berwudhu maka mereka akan segera berebutan mengambil
air wudlu. Bila beliau saw. meludah atau membuang dahak maka mereka akan meraihnya
dengan telapak tangan mereka lalu digosokkan pada wajah dan badan mereka. Kalau
ada sehelai rambut beliau saw. yang jatuh mereka segera mengambilnya. Jika
beliau saw. memberi instruksi mereka segera mengerjakanya. Bila beliau saw.
berbicara mereka merendahkan suara mereka. Mereka tidak berani memandang tajam
beliau saw., karena menghormatinya.
Ketika
Usamah bin Syuraik kembali kepada kaum quraisy ia berkata: “Wahai orang-orang
Quraisy saya pernah mendatangi Kisra dan kaisar di istana mereka, Demi Allah saya
belum pernah sekalipun melihat raja bersama kaumnya sebagaimana Muhammad
bersama para sahabatnya".
Dalam riwayat lain
disebutkan: "Saya belum pernah sekalipun melihat raja yang dihormati
pengikutnya sebagaimana para sahabat menghormati Nabi saw.. Sungguh saya telah
melihat kaum yang tidak akan membiarkan beliau saw. dalam bahaya
selamanya".
Ath-Thabrani
dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya meriwayatkan dari Usamah bin Syuraik
bahwasanya ia berkata; “Kami sedang duduk-duduk di samping Nabi saw. seolah-seolah
di atas kepala kami hinggap burung “.
Tidak ada
seorangpun di antara kami yang berbicara tiba-tiba datang beberapa orang pada
Nabi saw. lalu mereka bertanya; “ Siapakah hamba Allah yang paling dicintainya?
“Yang paling baik budi pekertinya “Jawab Nabi saw.. Demikian tercantum dalam
at-Targhib:2/187. Imam al-Mundziri berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh
ath-Thabrani dalam ash-Shahih dengan para perawi yang bisa dijadikan
argumentasi.
Abu
Ya’la meriwayatkan dari al-Barra’ ibn ‘Azib dan menilainya shahih bahwa
al-Barra’ mengatakan: “Sungguh aku ingin sekali menanyakan sesuatu kepada
Rasulullah saw. namun aku menundanya selama dua tahun semata-mata karena
segan”.
Al-Baihaqi
meriwayatkan dari az-Zuhri bahwa ia berkata: “Mengkhabarkan kepada saya seorang
Anshor yang tidak saya ragukan bahwa Rasulullah saw. jika berwudhu atau
mengeluarkan dahak maka para sahabat berebutan mengambil dahak beliau kemudian
diusapkan pada wajah dan kulit mereka. “Mengapa kalian berbuat demikian,? Tanya
Rasulullah saw.? “Kami mencari berkah darinya.” “Barangsiapa yang ingin
dicintai Allah swt. dan RasulNya maka berkatalah jujur, menyampaikan amanah dan
tidak menyakiti tetangganya.” Demikian keterangan dalam al-Kanzu:8228.
Walhasil,
dalam hal ini ada dua persoalan besar yang harus dimengerti. Pertama; kewajiban
menghargai Nabi saw. dan meninggikan derajat beliau di atas semua makhluk.
Kedua; mengesakan Tuhan dan menyakini bahwa Allah swt. berbeda dari semua
makhlukNya dalam aspek dzat, sifat dan tindakan.
Barang
siapa yang meyakini adanya kesamaan makhluk dengan Allah swt. dalam aspek ini
maka ia telah menyekutukan Allah swt. sebagaimana kaum musyrikin yang meyakini
ketuhanan dan penyembahan terhadap berhala. Dan siapapun yang merendahkan Nabi
saw. dari kedudukan semestinya maka ia berdosa atau kafir.
Adapun
orang menghormati Nabi saw. dengan beragam penghormatan yang berlebihan namun
tidak mensifati beliau dengan sifat-sifat Allah swt. apapun maka ia telah
berada di jalan yang benar dan secara bersamaan telah menjaga aspek ketuhanan dan
kerasulan. Sikap semacam ini adalah sikap yang ideal. Apabila ditemukan dalam
ucapan kaum mukminin penyandaran sesuatu kepada selain Allah maka wajib
dipahami sebagai majaz ‘aqli. Tidak ada alasan untuk mengkafirkannya karena
majaz ‘aqli digunakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
PERANTARA
SYIRIK
Banyak
orang keliru dalam memahami esensi perantara (wasithah). Mereka memvonis dengan
gegabah bahwa perantara adalah tindakan musyrik dan menganggap bahwa siapapun
yang menggunakan perantara dengan cara apapun telah menyekutukan Allah swt. dan
sikapnya sama dengan sikap orang-orang musyrik yang mengatakan:
مَا
نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
"Kami tidak
menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya." (QS. az-Zumar:3)
Kesimpulan
ini jelas salah dan berargumentasi dengan ayat di atas adalah bukan pada
tempatnya. Karena ayat tersebut jelas menunjukkan pengingkaran terhadap orang
musyrik menyangkut penyembahan mereka terhadap berhala dan menjadikannya
sebagai tuhan selain Allah swt. serta menjadikan berhala sebagai sekutu dalam
ketuhanan dengan anggapan bahwa penyembahan mereka terhadap berhala mendekatkan
mereka kepada Allah swt.
Jadi,
kekufuran dan kemusyrikan kaum mussyrikin adalah dari aspek penyembahan mereka
terhadap berhala dan dari aspek keyakinan mereka bahwa berhala adalah
tuhan-tuhan di luar Allah swt.
Di
sini ada masalah yang urgen untuk dijelaskan, yaitu bahwa ayat di atas
menyatakan bahwa kaum musyrikin, sesuai yang digambarkan Allah swt., tidak
meyakini dengan serius ucapan mereka yang membenarkan penyembahan berhala:
(Kami tidak menyembah mereka kecuali semata-mata untuk mendekatkan diri kepada
Allah). Jika ucapan kaum musyrikin tersebut sungguh-sungguh niscaya Allah swt.
lebih agung daripada berhala dan mereka tidak akan menyembah selainNya.
Allah
telah melarang kaum muslimin untuk memaki berhala-berhala kaum musyrikin, lewat
firmanNya:
وَلَا
تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا
بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى
رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Dan
janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena
mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian
kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa
yang dahulu mereka kerjakan." (QS. al-An`am:108)
Abdurrazaq,
Abd ibn Hamid, Ibn Jarir, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Abu asy-Syaikh
meriwayatkan dari Qatadah bahwa Rasulullah saw. Berkata: “Awalnya Kaum muslimin
memaki berhala-berhala orang kafir. Akhirnya mereka memaki Allah. Lalu turunlah
ayat 108 surat al-An'am di atas. Peristiwa inilah yang menjadi latar belakang
turunnya ayat tersebut. Berarti ayat tersebut melarang dengan keras kaum
mu’minin untuk melontarkan kalimat yang bernada merendahkan terhadap batu-batu
yang disembah oleh kaum paganis di Makkah.
Karena
melontarkan kalimat seperti itu mengakibatkan kemurkaan kaum paganis karena
membela bebatuan yang mereka yakini dari lubuk hati paling dalam sebagai tuhan
yang memberi manfaat dan menolak bahaya. Jika mereka emosi maka akan balik
memaki Tuhan kaum muslimin, Allah swt. dan melecehkanNya dengan berbagai kekurangan
padahal Dia bebas dari segala kekurangan. Jika mereka meyakini dengan
sebenarnya bahwa penyembahan kepada berhala sekedar untuk mendekatkan diri
kepada Allah swt. niscaya mereka tidak akan berani memaki Allah swt. untuk
membalas orang yang memaki tuhan-tuhan mereka.
Fakta
ini menunjukkan dengan jelas bahwa keberadaaan Allah swt. dalam hati mereka
jauh lebih sedikit dari pada keberadaaan bebatuan yang disembah. Ayat lain yang
menunjukkan ketidakjujuran orang kafir adalah
وَلَئِنْ
سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
"Dan
Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan
langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah".
Katakanlah : "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak
mengetahui." (QS. Luqman:25)
Bila
orang-orang kafir meyakini dengan jujur bahwa hanya Allah swt. Sang Pencipta
dan bahwa berhala-berhala itu tidak mampu menciptakan apa-apa niscaya mereka
akan menyembah Allah swt. semata, tidak menyembah berhala atau minimal
penghormatan mereka terhadap Allah swt. melebihi penghormatan kepada
patung-patung dari batu tersebut. Apakah jawaban mereka dalam ayat ini relevan
dengan makian mereka terhadap Allah swt. sebagai bentuk pembelaan terhadap
berhala-berhala mereka dan pelampiasan dendam terhadap Allah swt? Secara
spontan kita akan menjawab sampai kapanpun hal ini tidak relevan. Ayat di atas
bukanlah satu-satunya ayat yang menunjukkan bahwa di mata mereka Allah swt.
lebih rendah dari patung-patung yang mereka sembah.
Banyak ayat senada
seperti :
وَجَعَلُوا
لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا
لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا
يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ
سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
"Dan mereka
memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah
diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka:
"Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka
saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada
Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai
kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu." (QS.
al-An`am:136)
Seandainya
di mata mereka Allah swt. tidak lebih rendah dibanding patung-patung tersebut
maka mereka tidak akan mengunggulkannya dalam bentuk seperti yang diceritakan
ayat ini dan tidak layak mendapat vonis " سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ "
. Salah satu ungkapan yang masuk kategori di atas adalah perkataan Abu Sufyan
sebelum masuk Islam, “Mulialah engkau wahai Hubal!” sebagaimana riwayat
al-Bukhari. Pujian ini dialamatkan kepada berhala mereka yang bernama Hubal
agar dalam kondisi kritis mampu mengatasi Allah Tuhan langit dan bumi serta
agar ia dan pasukannya mampu mengalahkan tentara mukmin yang hendak
menghancurkan berhala-berhala mereka. Ini adalah gambaran dari sikap orang
musyrik menyangkut berhala dan Allah swt.
Pengertian
bahwa penghormatan bukan berarti penyembahan terhadap obyek yang dihormati
harus dipahami dengan baik karena banyak orang tidak memahaminya dengan benar
lalu membangun persepsi-persepsi yang sesuai dengan pemahamannya.
Apakah
tidak engkau perhatikan ketika Allah swt. menyuruh kaum muslimin menghadap
Ka’bah saat shalat, mereka menyembah menghadapnya dan menjadikannya sebagai
kiblat? Tetapi Ka’bah bukanlah obyek penyembahan. Mencium Hajar Aswad adalah
penghambaan kepada Allah swt. dan mengikuti Nabi saw. Seandainya ada kaum
muslimin yang berniat menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad niscaya mereka menjadi
musyrik sebagaimana para penyembah berhala. Perantara (mediator/ wasithah)
adalah sesuatu yang harus ada.
Eksistensinya
bukanlah sebagai bentuk kemusyrikan. Tidak semua orang yang menggunakan
mediator antara dirinya dan Allah swt. dipandang musyrik. Jika semua dianggap
musyrik niscaya semua orang dikategorikan musyrik karena segala urusan mereka
didasarkan atas eksistensi mediator. Nabi Muhammad saw. menerima al-Qur’an via
Jibril dan Jibril adalah mediator beliau.
Sedang
Nabi saw. adalah mediator besar bagi para sahabat. Ketika mengalami problem
yang berat mereka datang dan mengadukannya kepada beliau dan menjadikannya
sebagai mediator menuju Allah swt. Mereka memohon doa kepada beliau dan beliau
tidak menjawab, “Kalian telah musyrik dan kafir karena tidak boleh mengadu dan
memohon kepada saya. Kalian harus datang, berdoa dan memohon sendiri karena
Allah lebih dekat dengan kalian dari pada saya”. Nabi saw. tidak pernah berkata
demikian. Beliau malah berdiam dan dan memohon pada saat di mana mereka
mengatahui bahwa Pemberi Sejati adalah Allah swt. dan yang mencegah,
melimpahkan dan pemberi rizqi juga Allah swt. Mereka juga tahu bahwa beliau
saw. memberi atas izin dan karunia Allah swt.
Beliaulah
yang mengatakan, ”Saya adalah pembagi dan Allah adalah pemberi”. Berangkat dari
pengertian bahwa penghormatan bukan berarti penyembahan terhadap obyek yang
dihormati ini maka jelas diperbolehkan menetapkan manusia biasa manapun bahwa
ia telah mengatasi kesulitan dan mencukupi kebutuhan dengan pengertian bahwa ia
adalah mediator dalam pemenuhan kebutuhan tersebut.
Kalau
manusia biasa bisa berperan seperti ini maka bagaimana dengan Nabi Muhammad
saw. yang notabene junjungan mulia, Nabi Agung, makhluk termulia dunia akhirat
, junjungan jin dan manusia serta makhluk Allah swt. paling utama secara
mutlak? Bukankah beliau pernah bersabda: "Barangsiapa membantu mengatasi
satu dari banyak kesulitan seorang mu’min di dunia, maka Allah akan
melepaskannya kesusahan pada hari kiamat." (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka orang mu’min
adalah orang yang mengatasi segala kesulitan.
Bukankah beliau
juga bersabda: "Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya maka saya akan
berdiri di dekat timbangan amalnya. Jika timbangan amal baik itu lebih berat
maka akubiarkan, jika tidak maka aku akan memberinya syafaat? Maka orang mu’min
adalah orang yang mencukupi segala kebutuhan."
مَنْ
سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ لهُ
"Barangsiapa
menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya."
"Sesungguhnya Allah memiliki para makhluk yang didatangi
banyak orang untuk memenuhi kebutuhan mereka."
وَاللَّهُ
فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
"Allah
senantiasa membantu hamba-Nya sepanjang ia membantu saudaranya."
مَنْ
أَغَاثَ مَلْهُوفًا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ثَلاَثَةً وَسَبْعِينَ حَسَنَةً
"Siapapun
yang menolong orang teraniaya maka Allah akan menulis baginya 73
kebaikan." (HR. Abu Ya’la, al-Bazzar dan al-Baihaqi)
Dalam
konteks ini orang mu’min adalah yang mengatasi, membantu, menolong, menutupi
dan yang menjadi tempat pengaduan meskipun sesungguhnya pelaku sejatinya adalah
Allah swt. Namun berhubung ia adalah mediator dalam menangani masalah-masalah
tersebut maka sah menisbatkan tindakan-tindakan tersebut kepadanya.
Dalam
koleksi hadits-hadits Rasulullah saw. terdapat banyak hadits yang menjelaskan
bahwa Allah swt. menghindarkan siksaan dari penduduk bumi berkat orang-orang
yang beristighfar dan mereka yang rajin menghidupkan masjid dan Dia juga
memberi rizqi, menolong dan menjauhkan musibah dan tenggelam dari penduduk bumi
berkat mereka. Ath-Thabrani dalam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam as-Sunan
meriwayatkan dari Mani’ ad-Dailami ra. bahwa ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda: “Jikalau tiada para hamba Allah yang sholat, para bayi yang menyusui
dan binatang yang merumput niscaya adzab akan diturunkan dan orang-orang yang
terkena adzab itu akan dihancurkan”.
Al-Bukhari
meriwayatkan dari Sa’d ibn Abi Waqqash ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
هَلْ
تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ ؟
”Bukankah kalian
mendapat kemenangan dan rizki hanya karena orang-orang lemah kalian”.
At-Tirmidzi
meriwayatkan sebuah hadits yang dikategorikan shahih oleh al-Hakim dari Anas
ra. bahwa Nabi saw. bersabda:
لَعَلَّكَ
تُرْزَقُ بِهِ
”Barangkali kamu
mendapat rizqi berkat saudaramu”.
Dari
Abdullah ibn Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: ”Sesungguhnya Allah
memiliki para makhluk yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Orang-orang datang kepada mereka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Mereka
dalah orang-orang yang aman dari adzab Allah”.(HR. Thabrani dalam al-Kabiir,
Abu Nu’aim dan al-Qudlo’i dengan status Hasan)
Dari
Abdillah ibn Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda : ”Sesungguhnya Allah swt,
sebab keshalihan seorang laki-laki muslim akan membuat anak, cucu, warga
desanya dan desa-desa sekitarnya menjadi shalih dan mereka senantiasa berada
dalam lindungan Allah sepanjang laki-laki shalih itu tinggal bersama mereka”.
Diriwayatkan
oleh Ibn Jarir dalam tafsirnya:2341 dan an-Nasa’i dalam al-Mawa’idz dari
as-Sunan al-Kubra sebagaimana keterangan dalam at-Tuhfah:13/380. Para perawi
hadits ini sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Shahih al-Bukhari dan
al-Muslim selain guru an-Nasa’i yang dikategorikan tsiqah dan wa fihi kalamun.
Dari
Ibnu ‘Umar ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: ”Sesungguhnya Allah
menghindarkan bala’ berkat seorang laki-laki shalih, seratus keluarga dari
tetangganya,”.
Lalu
Ibn ‘Umar mengutip firman Allah swt.: "Seandainya Allah tidak menolak
(keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah
bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta
alam." (HR. Thabrani).
Dari Tsauban
seraya memarfu’kan hadits berkata: ”Di tengah kalian senantiasa ada 7 orang
wali di mana berkat mereka kalian diberi pertolongan, hujan dan rizki sampai
tiba hari kiamat”.
Dari
‘Ubadah ibn Shamit ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda:
الأبدال
فى أمتى ثلاثون بهم تقوم الأرض وبهم يُمطرون وبهم يُنصرون
”Wali badal
(Abdaal) dalam ummatku ada 30. Berkat mereka kalian diberi hujan dan mendapat
pertolongan”.
Qatadah
berkata:
إِنِّي
لأَرْجُو أَنْ يَكُونَ الْحَسَنِ مِنْهُمْ
”Sungguh saya
berharap Hasan al-Bashri termasuk mereka”. (HR. Thabrani).
Empat
hadits di atas disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat:
"Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan
sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia
(yang dicurahkan) atas semesta alam." (QS. al-Baqarah:251). Ayat ini layak
dijadikan argumen dan dari keempatnya status hadits menjadi shahih.
Dari
Anas ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: ”Bumi tidak akan sepi dari 40
laki-laki seperti Khalilurrahman Ibrahim as. Berkat mereka kalian disirami
hujan dan diberi pertolongan. Jika salah seorang meninggal maka Allah akan
menggantinya dengan orang lain.” (HR. Thabrani dalam al-Ausath dan isnad-isnad
hadits ini hasan. Majma’ az-Zawaid:2/62)
MEDIATOR PALING
AGUNG
Dalam hari mahsyar
yang notabene hari tauhid, hari iman dan hari di mana ‘Arsy dimunculkan, akan
tampak keutamaan mediator paling agung, pemilik panji (al-Liwa’ al-Ma’qud),
kedudukan terpuji, telaga yang didatangi, pemberi syafaat yang diterima
syafaatnya dan tidak sia-sia jaminannya untuk orang yang Allah swt. telah
berjanji kepada beliau bahwa Allah swt. tidak akan mengecewakan anggapan
beliau, tidak akan menghina beliau selamanya, tidak membuat beliau susah serta
malu saat para makhluk datang kepada beliau memohon syafaat. Lalu beliau
berdiri kemudian tidak kembali kecuali mendapat baju kebaikan dan mahkota
kemuliaan yang tergambar dalam perintah Allah swt. kepada beliau:
يَا
مُحَمَّدُ ، ارْفَعْ رَأْسَكَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ وَسَلْ تُعْطَ
“Wahai Muhammad,
angkatlah kepalamu, berilah syafaat maka syafaatmu akan diterima dan mohonlah
maka kamu akan diberi ”.
BAJU
KEPALSUAN
Mereka
yang mengklaim memahami substansi permasalahan dan kekanak-kanakkan banyak
jumlahnya. Namun sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa dan tidak layak dianggap
memahaminya.
Semua
mengaku punya hubungan kasih dengan Laila Tapi Laila menampik pengakuan mereka.
Fakta menyedihkan ini ditambah lagi dengan sikap mereka yang mencoreng diri
sendiri dan merusak reputasi. Sikap mereka tepat dengan apa yang digambarkan
secara detail dalam sebuah hadits:
الْمُتَشَبِّعُ
بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبِي زُورٍ
"Orang yang
berpura-pura kenyang dengan sesuatu yang tidak bisa membuat kenyang laksana
orang yang mengenakan dua baju kebohongan".
Kita,
umat Islam mendapat cobaan dengan banyaknya orang-orang seperti di atas. Mereka
mengeruhkan kedamaian umat, memecah belah antar kelompok dan menbangkitkan
konflik antar sesama saudara dan anak dengan ayahnya. Mereka berusaha
meluruskan persepsi-persepsi Islam lewat pintu pendurhakaan terhadap ulama, dan
berpegang teguh dengan ajaran-ajaran salaf dengan jalan pengingkaran, dan
mengganti kebajikan, tutur kata yang baik dan belas kasih dengan sikap keras,
membatu, etika yang buruk dan minimnya simpati.
Di
antara para pengklaim adalah mereka yang menganggap mengikuti jalan tasawwuf
padahal mereka adalah orang yang paling jauh dari substansi dan essensi
tasawwuf. Mereka menodai tasawwuf, mengotori kemuliaannya, merusak ajarannya
dan melontarkan kritik pedas terhadap tasawwuf dan para imamnya dari para ahli
ma’rifat dan para guru pembimbing. Kami tidak mengenal tahayyul, kebatilan,
kebohongan dan tipuan dalam tasawwuf.
Kami
juga tidak mengenal teori-teori filsafat, ide-ide luar atau aqidah-aqidah
musyrik baik sinkretisme atau manunggaling kawula gusti. Kami lepas tangan
kepada Allah swt. dari muatan-muatan sesat tasawwuf dan mengkategorikan semua
pandangan yang berlawanan dengan al-Kitab dan as-Sunnah dan tidak bisa dita’wil
adalah kebohongan yang menyusup dan ditambahkan oleh tangan-tangan jahil dan
jiwa-jiwa yang lemah.
Dengan
perilaku yang baik dan budi pekerti yang bersih tampaklah kepahlawanan generasi
awal, para tokoh, para imam dan para pahlawannya. Dan tampak di hadapan kita
sosok Islam yang paling cemerlang, sempurna, dan contoh paling luhur dan suci.
Sejarah telah menginformasikan kepada kita cerita kemuliaan, kebanggaan,
kehormatan, keagungan, jihad, perjuangan, dan pelajaran-pelajaran tentang
peradaban Islam.
Berangkat dari
fakta di muka kami meyakini bahwa kebangkitan-kebangkitan besar tidak akan terbangun
kecuali di atas risalah-risalah spiritual dan inspirasi-inspirasi iman dan
tidak akan berdiri kecuali di atas etika-etika luhur yang kokoh yang
model-modelnya digali dari akidah-akidah suci.
Sesungguhnya
sifat-sifat etik, psikologis dan spiritual adalah modal dasar bangsa. Ketiga
faktor ini adalah aset-aset besar yang membentuk umat dan mengantarkan umat
manusia menuju cita-cita luhur. Orang yang mengkaji sejarah hidup generasi
salaf shalih dan tokoh-tokoh sufi di tengah masyarakat, akan melihat bagaimana
contoh-contoh ideal dan prinsip-prinsip ini bisa menjadi faktor langsung
terjadinya revolusi-revolusi yang nyata, tercatat dan populer dalam sejarah
Islam.
Mereka
tidak memiliki pengaruh dan kekuatan kecuali iman dalam tatarannya yang paling
tinggi. Iman yang panas, berkobar-kobar, dan hidup yang berlandaskan kerinduan
dan kecintaan kepada Allah swt. Sebuah keimanan yang mampu menyalakan api yang
menyala-nyala dan menatap selamanya kepada Allah swt. dalam hati para
pengikutnya.
Orang
yang mengkaji juga akan melihat bagaimana di tengah mereka seorang laki-laki
bisa hidup dalam maqam al-Ihsan (kondisi di mana seseorang merasakan kehadiran
Allah swt.), ia melihat Allah swt. dalam segala sesuatu, dan merasa takut
kepadaNya dalam segala aktivitasnya. Ia senantiasa merasa takut kepada Allah
swt. dalam setiap tarikan nafasnya tanpa meyakini adanya penitisan, bersatunya
Tuhan dengannya, dan peniadaan eksistensi Tuhan. Iman ini adalah iman yang
membangunkan kesadaran holistik dalam kehidupan, menyentak rasa yang dalam akan
ketuhanan yang berjalan dalam alam semesta, dan yang hidup dalam sudut-sudut
paling dasar dari alam semesta, yang mengetahui apa-apa yang terlintas di hati,
bisikan-bisikan rahasia, mata yang mencuri pandang dan apa yang disembunyikan
dalam hati.
ANTARA
SEBAIK-BAIK BID’AH DAN SEBURUK-BURUKNYA
Di
antara mereka yang mengklaim memahami substansi permasalahan adalah orang-orang
yang menilai diri mereka sebagai salaf shalih. Mereka bangkit mendakwahkan
gerakan salafiyah dengan cara biadab dan tolol, fanatisme buta, akal-akal yang
kosong, pemahaman-pemahaman yang dangkal dan tidak toleran dengan memerangi
segala hal yang baru dan menolak setiap kreativitas yang berguna dengan
anggapan bahwa hal itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat tanpa
memilah klasifikasinya padahal spirit syariah Islam mengharuskan kita
membedakan bermacam-macam bid’ah dan mengatakan bahwa: "Sebagian bid’ah
ada yang baik dan sebagian ada yang buruk".
Klasifikasi
ini adalah tuntutan akal yang cemerlang dan pandangan yang dalam. Klasifikasi
bid’ah ini adalah hasil kajian mendalam para sarjana ushul fiqh dari generasi
klasik kaum muslimin seperti al-Imam al-‘Izz ibn Abdissalam, an-Nawawi,
as-Suyuthi, al-Mahalli dan Ibnu Hajar. Hadits-hadits Nabi itu saling
menafsirkan dan saling melengkapi. Maka diharuskan menilainya dengan penilaian
yang utuh dan komprehensif serta harus menafsirkannya dengan menggunakan spirit
dan persepsi syariah dan yang telah mendapat legitimasi dari para pakar.
Karena
itu kita menemukan banyak hadits mulia dalam penafsirannya membutuhkan akal
yang jernih, fikiran yang dalam, pemahaman yang relevan, dan emosi yang
sensitif yang digali dari samudera syariah, yang bisa memperhatikan kondisi dan
kebutuhan umat, dan mampu menyesuaikan kondisi dan kebutuhan tersebut dalam
batasan kaidah-kaidah syari’at dan teks-teks al-Qur’an dan hadits yang
mengikat. Salah satu contoh dari hadits-hadits di muka adalah hadits:
كُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
"Setiap
bid’ah itu sesat."
Bid’ah
dalam hadits ini harus ditafsirkan sebagai bid’ah sayyi’ah (bid’ah tercela)
yang tidak termasuk dalam naungan dalil syar’i.
Penafsiran semacam
ini terjadi pula dalam hadits lain seperti:
لاَ
صَلاَةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلاَّ فِى الْمَسْجِدِ
"Tidak ada
sholatnya seseorang yang tinggal di dekat masjid kecuali dilakukan di
masjid."
Hadits
ini meskipun menunjukkan pengkhususan akan tidak sahnya sholat tetangga masjid
kecuali di masjid namun keumuman-keumuman hadits memberikan batasan bahwa
sholat tersebut tidak sempurna bukan tidak sah, di samping masih adanya
perbedaan dalam kalangan ulama.
Seperti hadits:
لاَ
صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ
"Tidak ada
sholat di hadapan makanan".
Para ulama
menafsirkan bahwa sholat tersebut tidak sempurna.
لَا
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidak
beriman salah satu dari kalian sehingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia
cintai untuk dirinya."
واللهِ
لا يُؤْمِن والله لا يؤمن والله لا يؤمن قيل: مَن يا رسول الله؟ قال:مَنْ لَمْ
يَأْمَنْ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
"Demi Allah,
tidak beriman, demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman. Ditanyakan
kepada beliau, “Siapakah wahai Rasulullah”. “Seseorang yang tetangganya merasa
terganggu dengannya”.
Para ulama
menafsirkan dengan tidak adanya iman yang sempurna.
لاَ
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ....., لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ وعاق
لوالديه
"Tidak akan
masuk sorga orang yang suka mengadu domba…….tidak akan masuk sorga orang yang
memutus hubungan kerabat dan yang durhaka kepada kedua orang tuanya."
Para ulama
menegaskan bahwa yang dimaksud tidak akan masuk surga ialah tidak akan masuk
pertama kali atau tidak masuk surga jika menilai perbuatan tercela tersebut
halal dilakukan. Walhasil, para ulama tidak memahami hadits di atas secara
tekstual tapi menafsirkannya dengan bermacam-macam penafsiran yang sesuai.
Hadits
di atas yang menjelaskan bid’ah termasuk dalam kategori ini. Keumuman-keumuman
hadits dan keadaan-keadaan sahabat memberi kesimpulan bahwa bid’ah yang
dimaksud adalah bid’ah tercela yang tidak berada dalam naungan prinsip umum.
Dalam sebuah hadits dijelaskan:
مَنْ
سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَ أَجْر مَنْ عَمِلَ
بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Siapapun
yang mengawali tradisi yang terpuji maka ia memperoleh pahala darinya dan dari
pahala mereka yang mengamalkannya sampai hari kiamat."
"Berpegangteguhlah dengan sunnahku dan sunnah para
khulafaurrasyidin sesudah wafatku."
Umar
ibn Khaththab berkomentar mengenai sholat tarawih: "Sebaik-baik bid’ah
adalah ini (sholat tarawih berjama’ah dalam satu masjid dengan seorang
imam)".
PERBEDAAN
PASTI ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH DAN BID’AH LUGHAWIYYAH
Sebagian
ulama mengkritik pengklasifikasian bid’ah dalam bid’ah terpuji dan tercela.
Mereka menolak dengan keras orang yang berpendapat demikian. Malah sebagian ada
yang menuduhnya fasik dan sesat disebabkan berlawanan dengan sabda Nabi saw.
yang jelas: "Setiap bid’ah itu sesat". Teks hadits ini jelas
menunjukkan keumuman dan menggambarkan bid’ah sebagai sesat.
Karena
itu Anda akan melihat ia berkata: Setelah sabda penetap syari’ah dan pemilik
risalah bahwa setiap bid’ah itu sesat, apakah sah ungkapan: Akan datang seorang
mujtahid atau faqih, apapun kedudukannya, lalu ia berkata, “Tidak, tidak, tidak
setiap bid’ah itu sesat. Tetapi sebagian bid’ah itu sesat, sebagian baik dan
sebagian lagi buruk. Berangkat dari pandangan ini banyak masyarakat terpedaya.
Mereka ikut berteriak dan ingkar serta memperbanyak jumlah orang-orang yang
tidak memahami tujuan-tujuan syari’ah dan tidak merasakan spirit agama Islam.
Tidak
lama kemudian mereka terpaksa menciptakan jalan untuk memecahkan
problem-problem yang mereka hadapi dan kondisi zaman yang mereka hadapi juga
menekan mereka. Mereka terpaksa menciptakan perantara lain. Yang jika tanpa
perantara ini mereka tidak akan bisa makan, minum dan diam. Malah tidak akan
bisa mengenakan pakaian, bernafas, menikah serta berhubungan dengan dirinya,
keluarga, saudara dan masyarakatnya.
Perantara
ini ialah ungkapan yang dilontarkan dengan jelas: Sesungguhnya bid’ah terbagi
menjadi dua ; 1) Bid’ah Diniyah (keagamaan) 2) Bid’ah Duniawiyyah (keduniaan).
Subhanallah, mereka yang suka bermain-main ini membolehkan menciptakan
klasifikasi tersebut atau minimal telah membuat nama tersebut. Jika kita setuju
bahwa pengertian ini telah ada sejak era kenabian namun pembagian ini, diniyyah
dan duniawiyyah, sama sekali tidak ada dalam era pembuatan undang-undang
kenabian. Lalu dari mana pembagian ini? dan dari mana nama-nama baru ini
datang?
Orang
yang berkata bahwa pembagian bid’ah ke yang baik dan buruk itu tidak bersumber
dari Syari’, maka saya akan menjawabnya bahwa pembagian bid’ah ke bid’ah
diniyyah yang tidak bisa diterima dan ke duniawiyyah yang diterima, adalah
tindakan bid’ah dan mengada-ada yang sebenarnya. Rasulullah saw. sebagai Syari’
bersabda: “Setiap bid’ah itu sesat". Demikianlah beliau mengatakannya
secara mutlak. Sedang ia mengatakan tidak, tidak, tidak semua bid’ah itu sesat.
Tetapi bid’ah terbagi menjadi dua bagian; diniyyah yang sesat dan duniawiyyah
yang tidak mengandung konsekuensi apa-apa. Karena itu harus kami jelaskan di
sini sebuah persoalan penting yang dengannya banyak keganjilan akan menjadi
jelas, insya Allah.
Dalam
persoalan ini yang berbicara adalah Syari’ yang bijak. Lisan Syari’ adalah
lisan Syar’i. Maka untuk memahami ucapannya harus menggunakan standar Syar’i
yang dibawa Syari’. Jika Anda telah mengetahui bahwa bid’ah pada dasarnya
adalah setiap hal yang baru dan diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya maka
jangan sampai lenyap dari hatimu bahwa penambahan dan pembuatan yang tercela di
sini adalah penambahan dalam urusan agama agar tambahan itu menjadi urusan
agama, dan menambahi syari’at agar tambahan itu mengambil bentuk syari’ah.
Lalu
akhirnya tambahan itu menjadi syari’at yang dipatuhi yang dinisbatkan kepada
pemilik syari’ah. Bid’ah model inilah yang mendapat ancaman dari Nabi saw.:
مَنْ
أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa
menciptakan dalam agama kita, hal baru yang bukan bagian dari agama, maka ia
ditolak."
Garis
pemisah dalam tema hadits ini adalah kalimat “فِى أَمْرِنَا
هَذَا”. Oleh karena itu pengklasifikasian bid’ah menjadi bid’ah
yang baik dan buruk dalam persepsi kami hanya berlaku untuk pengertian bid’ah
yang ditinjau dari segi bahasa. Yakni, sekedar menciptakan hal baru. Kami semua
tidak ragu bahwa bid’ah dalam kacamata syara’ tidak lain adalah sesat dan
fitnah yang tercela, tidak diterima, dan dibenci. Jika mereka yang menolak
memahami penjelasan bisa memahami penjelasan ini maka akan tampak bagi mereka
bahwa titik temu dari perbedaan itu dekat dan sumber persengketaan itu jauh.
Untuk lebih mendekatkan beberapa pemahaman, saya melihat mereka yang
mengingkari pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan sayyi’ah, sebenarnya
mengingkari pembagian bid’ah dalam tinjauan syara’, dengan bukti mereka membagi
bid’ah dalam bid’ah diniyyah dan duniawiyyah, dan penilaian mereka bahwa
pembagian ini adalah sebuah keniscayaan.
Mereka
yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan sayyi’ah memandang bahwa
pembagian ini dikaitkan dengan tinjauan bid’ah dari aspek bahasa. Sebab mereka
mengatakan bahwa penambahan dalam agama dan syari’at adalah kesesatan dan
perbuatan amat tercela. Keyakinan semacam ini tidak diragukan lagi di mata
mereka. Dari dua cara pandang yang berbeda ini berarti perbedaan antara dua
kelompok ini tidaklah substansial
Hanya
saja saya melihat bahwa kawan-kawan yang mengingkari pembagian bid’ah menjadi
hasanah dan sayyiah dan yang berpendapat terbaginya bid’ah menjadi bid’ah
diniyyah dan duniawiyyah tidak mampu menggunakan ekspresi bahasa dengan cermat.
Hal ini disebabkan ketika mereka memvonis bahwa bid’ah diniyyah itu sesat, –ini
adalah pendapat yang benar– dan bid’ah duniawiyyah tidak ada konsekuensi
apapun, mereka telah keliru dalam menetapkan hukum. Sebab dengan sikap ini
mereka memvonis semua bid’ah duniawiyyah itu boleh. Sikap ini jelas sangat
berbahaya dan bisa menimbulkan fitnah dan bencana. Karena itu, persoalan ini
wajib dan mendesak untuk dijelaskan secara mendetail.
Yakni
mereka mengatakan bahwa bid’ah duniawiyyah ada yang baik dan ada yang buruk
sebagaimana fakta yang terjadi, yang tidak diingkari kecuali oleh orang buta
yang bodoh. Penambahan kalimat ini harus dilakukan. Untuk mendapatkan
pengertian yang tepat, cukuplah kita menggunakan pendapat orang yang berpendapat
bahwa bid’ah terbagi menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah. Yang dimaksud
bid’ah di sini sudah jelas adalah bid’ah dari aspek bahasa sebagaimana telah
dipaparkan di atas. Bid’ah dalam pengertian inilah yang dikatakan dengan bid’ah
duniawiyyah oleh mereka yang ingkar terhadap pembagiannya menjadi hasanah dan
sayyiah. Pendapat bid’ah terbagi menjadi hasanah dan sayyiah adalah pendapat
yang sangat cermat dan hati-hati. Karena pendapat ini mengumandangkan kepada
setiap hal baru untuk mematuhi hukum syari’at dan kaidah-kaidah agama, dan
mengharuskan kaum muslimin untuk menyelaraskan semua urusan dunia, baik yang
bersifat umum atau khusus, sesuai dengan syariat Islam, agar mengetahui hukum
Islam yang terdapat di dalamnya, betapapun besarnya bid’ah itu. Sikap semacam
ini tidak mungkin direalisasikan kecuali dengan mengklasifikasikan bid’ah
dengan tepat dan telah mendapat pertimbangan dari para aimmatul ushul.
Semoga Allah swt.
meridloi para a'immatul ushul dan meridhoi kajian mereka terhadap lafadz-lafadz
yang shahih dan mencukupi yang mengantar menuju pengertian-pengertian yang
benar, tanpa pengurangan, perubahan atau interpretasi.
AJAKAN
PARA AIMMAT AT-TASHAWWUF UNTUK MENGAPLIKASIKAN SYARI'AT
Tasawwuf,
obyek yang teraniaya dan senantiasa dicurigai, sangat minim mereka yang
bersikap adil dalam menyikapinya. Justru sebagian kalangan dengan keterlaluan
dan tanpa rasa malu mengkategorikannya dalam daftar karakter negatif yang
mengakibatkan gugurnya kesaksian dan lenyapnya sikap adil, dengan mengatakan,
“Fulan bukan orang yang bisa dipercaya dan informasinya ditolak.” Mengapa?
Karena ia seorang sufi. Anehnya, saya melihat sebagian mereka yang menghina
tasawwuf, menyerang dan memusuhi pengamal tasawwuf bertindak dan berbicara
tentang tasawwuf, kemudian tanpa sungkan mengutip ungkapan para imam tasawwuf
dalam khutbah dan ceramahnya di atas mimbar-mimbar Jum’at kursi-kursi
pengajaran.
Dengan
gagah dan percaya diri ia mengatakan, “Berkata Fudhail ibn ‘Iyadh, al-Junaid,
al-Hasan al-Bashri, Sahl at-Tusturi, al-Muhasibi, dan Bisyr al-Hafi.” Fudhail
ibn ‘Iyadh, al-Junaid, al-Hasan al-Bashri, Sahl at-Tusturi, al-Muhasibi, dan
Bisyr al-Hafi adalah tokoh-tokoh tasawwuf yang kitab-kitab tasawwuf penuh
dengan ucapan, informasi, kisah-kisah teladan, dan karakter mereka. Jadi, saya
tidak mengerti, apakah ia bodoh atau pura-pura bodoh? Buta atau pura-pura buta?
Saya ingin mengutip pandangan para tokoh tasawwuf menyangkut syari’ah Islam
agar kita mengetahui sikap mereka sesungguhnya.
Karena
yang wajib adalah kita mengetahui seseorang lewat pribadinya sendiri dan
manusia adalah orang terbaik yang berbicara mengenai pandangannya dan yang
paling dipercaya mengungkapkan apa yang dirahasiakan. Al-Imam Junaid ra.
berkata : “Semua jalan telah tertutup bagi makhluk kecuali orang yang mengikuti
jejak Rasulullah, sunnahnya dan setia pada jalan ditempuh beliau. Karena semua
jalan kebaikan terbuka untuk Nabi dan mereka yang mengikuti jejak beliau."
Terdapat
riwayat yang menyebutkan bahwa Abu Yazid al-Basthomi suatu hari berbicara pada
para muridnya, “Bangunlah bersamaku untuk melihat orang mempopulerkan dirinya
sebagai wali.” Lalu Abu Yazid dan murid-muridnya berangkat untuk mendatangi
wali tersebut. Kebetulan wali tersebut hendak menuju masjid dan meludah ke arah
kiblat. Abu Yazid pun berbalik pulang dan tidak memberi salam. “Orang ini tidak
dapat dipercaya atas satu etika dari beberapa etika Rasulullah saw., maka
bagaimana mungkin ia dapat dipercaya atas klaimnya tentang kedudukan para wali
dan shiddiqin?“ kata Abu Yazid.
Dzunnun
al-Mishri berkata, "Poros dari segala ungkapan (madar al- Kalam) ada
empat; Cinta kepada Allah Yang Maha Agung, benci kepada yang sedikit, mengikuti
al-Quran, dan khawatir berubah menjadi orang celaka. Salah satu indikasi orang
yang cinta kepada Allah adalah mengikuti kekasih Allah saw. dalam budi pekerti,
tindakan, perintah dan sunnahnya."
As-Sirri as-Siqthi
berkata, “Tasawwuf adalah identitas untuk tiga makna; Shufi (pengamal tasawwuf)
adalah orang yang cahaya ma’rifatnya tidak memadamkan cahaya wara’nya, tidak
berbicara menggunakan bathin menyangkut ilmu yang bertentangan dengan
pengertian lahirial al-Kitab dan as-Sunnah, dan karomahnya tidak mendorong
untuk menyingkap tabir-tabir keharaman Allah swt."
Abu
Nashr Bisyr ibn al-Harits al-Hafi berkata, “Saya bermimpi bertemu Nabi saw.:
“Wahai Bisyr, tahukah kamu kenapa Allah meninggikan derajatmu mengalahkan
teman-temanmu? Tanya Beliau.“Tidak tahu, Wahai Rasulullah,” Jawabku. “Sebab
Engkau mengikuti sunnahku, mengabdi kepada orang salih, memberi nasihat pada
teman-temanmu dan kecintaanmu kepada para sahabat dan keluargaku. Inilah faktor
yang membuatmu meraih derajat orang-orang yang baik (Abror).”
Abu
Yazid ibn ‘Isa ibn Thoifur al-Bashthomi berkata, “Sungguh terlintas di hatiku
untuk memohon kepada Allah swt. agar mencukupi biaya makan dan biaya perempuan,
kemudian saya berkata. “Bagaimana boleh saya memohon ini kepada Allah swt.
padahal Rasulullah saw. tidak pernah memohon demikian.” Akhirnya saya tidak
memohon ini kepada Allah swt. Kemudian Allah swt. mencukupi biaya para
perempuan hingga saya tidak peduli, apakah perempuan menghadapku atau
tembok."
Abu
Yazid juga pernah berkata, “Jika engkau memandang seorang laki-laki diberi
beberapa karomah hingga ia mampu terbang di udara, maka janganlah engkau
tertipu sampai engkau melihat bagaimana sikapnya menghadapi perintah dan
larangan Allah, menjaga batas-batas yang digariskan Allah dan pelaksanaannnya
terhadap syari’ah.”
Sulaiman
Abdurrahaman ibn ‘Athiah ad-Darani berkata, “Terkadang, selama beberapa hari
terasa di hatiku satu noktah dari beberapa noktah masyarakat. Saya tidak
menerima isi dari hati saya kecuali dengan dua saksi adil ; al-Qur’an dan
as-Sunnah.
Abul Hasan Ahmad
ibn Abi al-Hawari berkata, “Siapapun yang mengerjakan perbuatan tanpa mengikuti
sunnah Rasulullah saw. maka perbuatan itu sia-sia.”
Abu
Hafsh Umar ibn Salamah al-Haddaad berkata, “Barangsiapa yang tidak mengukur
semua tindakannya setiap saat dengan al-Kitab dan as-Sunnah, dan tidak berburuk
sangka dengan apa yang terlintas dalam hatinya, maka janganlah ia dimasukkan
dalam daftar para tokoh besar (diwan ar-Rijal).
Abul
Qasim al-Junaid ibn Muhammad berkata, “Siapapun yang tidak memperhatikan
al-Qur’an dan tidak mencatat al-Hadits, ia tidak bisa dijadikan panutan dalam
bidang ini (tasawwuf), karena ilmu kita dibatasi dengan al-Kitab dan
as-Sunnah.”
Ia juga berkata, “
Madzhabku ini dibatasi dengan prinsip-prinsip al-Kitab dan as-Sunnah dan ilmuku
ini dibangun di atas fondasi hadits Rasulullah saw.”
Abu
‘Utsman Sa’id ibn Ismail al-Hairi berkata, “Saat sikap Abu Utsman berubah, maka
anaknya, Abu Bakar merobek-robek qamis yang melekat pada tubuhnya, lalu Abu
‘Utsman membuka matanya dan berkata, “Wahai Anakku, mempraktekkan sunnah dalam
penampilan lahiriah itu indikasi kesempurnaan batin.”
Ia
juga berkata, “Bersahabat dengan Allah swt. itu dengan budi pekerti yang luhur
dan senantiasa takut kepadaNya. Bersahabat dengan Rasulullah saw. itu dengan
mengikuti sunnahnya dan senantiasa mempraktekkan ilmu lahiriah. Bersahabat
dengan para wali dengan menghormati dan mengabdi. Bersahabat dengan keluarga
itu dengan budi pekerti yang baik. Bersahabat dengan kawan-kawan itu dengan
senantiasa bermuka manis sepanjang bukan perbuatan dosa. Dan bersahabat dengan
orang bodoh itu dengan mendoakan dan rasa belas kasih."
Ia
juga berkata, “Barangsiapa yang memposisikan as-Sunnah sebagai pimpinannya
dalam ucapan dan tindakan maka ia akan berbicara dengan hikmah. Dan barangsiapa
memposisikan hawa nafsu sebagai pimpinannya dalam ucapan dan tindakan maka ia
akan berbicara dengan bid’ah. Allah swt. berfirman:
وَإِنْ
تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
"Jika kamu
taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk." (QS. an-Nur:54)
Abul
Hasan Ahmad ibn Muhammad an-Nawawi mengatakan, “Jika engkau melihat orang yang
mengklaim kondisi bersama Allah swt. yang membuatnya terlepas dari batasan ilmu
syari’at maka janganlah engkau mendekatinya.”
Abul
Fawaris Syah ibn Syuja’ al-Karmani berkata, “Barangsiapa memejamkan matanya
dari hal-hal yang diharamkan, mengendalikan nafsunya dari syahwat, menghidupkan
bathinnya dengan senantiasa merasakan kehadiran Allah swt. (muraqabat) dan
menghidupkan keadaan lahiriahnya dengan mengikuti sunnah, dan membiasakan diri
memakan barang halal, maka firasatnya tidak akan meleset.”
Abul
Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Sahl ibn Atha’ mengatakan, “Barangsiapa menekan
dirinya untuk mengamalkan etika-etika syari’at maka Allah swt. akan menerangi
hatinya dengan cahaya ma’rifat dan dianugerahi kedudukan mengikuti al-Habib
Rasulullah saw. dalam segala perintah, larangan dan budi pekerti beliau saw.”
Ia
juga mengatakan, “Semua yang ditanyakan kepadaku carilah pada belantara
syari’at. Jika engkau tidak menemukannya, carilah di medan hikmah. Jika tidak
menemukannya, takarlah dengan tauhid. Dan jika tidak menemukannya di tiga
tempat pencarian ini, maka lemparkanlah ia ke wajah setan.”
Abu
Hamzah al-Baghdadi al-Bazzar mengatakan, “Siapapun yang mengetahui jalan Allah
swt. maka Dia akan memudahkan untuk menempuhnya. Dan tidak ada petunjuk jalan
menuju Allah swt. kecuali mengikuti Rasulullah saw. dalam sikap, tindakan dan
ucapan beliau.”
Abu
Ishaq Ibrahim ibn Dawud ar-Ruqi mengatakan, “ Indikator cinta kepada Allah swt.
adalah memprioritaskan ketaatan kepada Allah swt. dan mengikuti NabiNya saw.”
Mamsyad
ad-Dinawari berkata, “Etika murid adalah selalu dalam menghormati masyayikh
(guru), membantu kawan-kawan, terlepas dari faktor-faktor penyebab, dan menjaga
etika syari’at untuk dirinya.”
Abu
Abdillah ibn Munazil berkata, “Tidak ada seseorangpun yang menelantarkan salah
satu kefardhuan Allah swt. kecuali Allah swt. akan menimpakan musibah dengan
menyia-nyiakan sunnah. Dan Allah swt. tidak menimpakan musibah seseorang dengan
menelantarkan sunnah kecuali ia hendak diberi musibah dengan bid’ah.”
SUBSTANSI
KELOMPOK IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARI (ASYA’IRAH)
Banyak
kaum muslimin tidak mengenal madzhab al-Asya’irah (kelompok ulama penganut
madzhab Imam Asy’ari) dan tidak mengetahui siapakah mereka, dan metode mereka
dalam bidang aqidah. Sebagian kalangan, tanpa apriori, malah menilai mereka
sesat atau telah keluar dari Islam dan menyimpang dalam memahami sifat-sifat
Allah swt. Ketidaktahuan terhadap madzhab al-Asya’irah ini adalah faktor
retaknya kesatuan kelompok Ahlussunnah dan terpecah-pecahnya persatuan mereka,
sehingga sebagian kalangan yang bodoh memasukkan al-Asya’irah dalam daftar
kelompok sesat. Saya tidak habis pikir, mengapa kelompok yang beriman dan
kelompok sesat disatukan? Dan mengapa Ahlussunnah dan kelompok ekstrim
Mu’tazilah (Jahmiyyah) disamakan?
أَفَنَجْعَلُ
الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ
"Maka apakah
patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang
berdosa (orang kafir)." (QS. Al-Qalam:35)
Al-Asya’irah
adalah para imam simbol hidayah dari kalangan ulama muslimin yang ilmu mereka
memenuhi bagian timur dan barat dunia dan semua orang sepakat atas keutamaan,
keilmuan dan keagamaan mereka. Mereka adalah tokoh-tokoh besar ulama
Ahlussunnah yang menentang kesewenang-wenangan Mu’tazilah.
Dalam
versi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah al-Asya’irah digambarkan dalam kitab
al-Fataawaa, volume 4 sebagai berikut: "Para ulama adalah pembela ilmu
agama dan al-Asya’irah pembela dasar-dasar agama (ushuluddin)."
Al-Asya’irah (penganut madzhab
al-Asy’ari) terdiri dari kelompok para imam ahli hadits, ahli fiqih dan ahli
tafsir seperti :
Syaikhul Islam Ahmad ibn Hajar
al-‘Asqalani, yang tidak disangsikan lagi sebagai gurunya para ahli hadits,
penyusun kitab Fathu al-Bari ‘ala Syarhi al-Bukhaari.
Syaikhu Ulamai Ahlissunnah, al-Imam
an-Nawaawi, penyusun Syarh Shahih Muslim, dan penyusun banyak kitab populer.
Syaikhul Mufassirin al-Imam al-Qurthubi
penyusun tafsir al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an.
Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami,
penyusun kitab az-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba’ir.
Syaikhul Fiqh, al-Hujjah (argumentasi)
dan ats-Tsabat (tokoh ulama yang dipercaya) Zakariya al-Anshari.
Al-Imam Abu Bakar al-Baaqilani
Al-Imam al-Qashthalani.
Al-Imam an-Nasafi
Al-Imam asy-Syarbini
Abu Hayyan an-Nahwi, penyusun tafsir
al-Bahru al-Muhith.
Al-Imam Ibnu Juza, penyusun at-Tafshil
fi ‘Uluumi at-Tanzil.
Dan sebagainya.
Seandainya
kita menghitung jumlah ulama besar dari ahli hadits, tafsir dan fiqh dari
kalangan al-Asya’irah, maka keadaan tidak akan memungkinkan dan kita
membutuhkan beberapa jilid buku untuk merangkai nama para ulama besar yang ilmu
mereka memenuhi wilayah timur dan barat bumi. Adalah salah satu kewajiban kita
untuk berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa dan mengakui
keutamaan orang-orang yang berilmu dan memiliki kelebihan yakni para tokoh
ulama, yang telah mengabdi kepada syari’at junjungan para rasul Muhammad saw.
Kebaikan
apa yang bisa kita peroleh jika kita menuding para ulama besar dan generasi
salaf shalih telah menyimpang dan sesat? Bagaimana Allah swt. akan membukakan
mata hati kita untuk mengambil manfaat dari ilmu mereka bila kita meyakini
mereka telah menyimpang dan tersesat dari jalan Islam?
Saya ingin
bertanya, “Adakah dari para ulama sekarang dari kalangan doktor dan orang-orang
jenius, yang telah mengabdi kepada hadits Nabi saw. sebagaimana dua imam besar
; Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan al-Imam an-Nawawi? semoga Allah swt. melimpahkan
rahmat dan keridhoan kepada mereka berdua.”
Lalu
mengapa kita menuduh sesat mereka berdua dan ulama al-Asya’irah yang lain,
padahal kita membutuhkan ilmu-ilmu mereka? Mengapa kita mengambil ilmu dari
mereka jika mereka memang sesat? Padahal al-Imam Ibnu Sirin rahimakumullah
pernah berkata: "Ilmu hadits ini adalah agama maka perhatikan dari siapa
kalian mengambil agama kalian." Apakah tidak cukup bagi orang yang tidak
sependapat dengan para imam di atas, untuk mengatakan, “Mereka rahimahullah
telah berijtihad dan mereka salah dalam menafsirkan sifat-sifat Allah
swt."
Maka
yang lebih baik adalah tidak mengikuti metode mereka. Sebagai ganti dari
ungkapan kami menuduh mereka telah menyimpang dan sesat dan kami marah atas
orang yang mengkategorikan mereka sebagai Ahlussunnah. Bila al-Imam an-Nawawi,
al-‘Asqalani, al-Qurthubi, al-Fakhrurrazi, al-Haitami dan Zakariya al-Anshari
dan ulama besar lain tidak dikategorikan sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, lalu
siapakah mereka yang termasuk Ahlussunnah wal Jama’ah?.
Sungguh,
dengan tulus kami mengajak semua pendakwah dan mereka yang beraktivitas di
medan dakwah Islam untuk takut kepada Allah swt. dalam menilai umat Muhammad,
khususnya menyangkut tokoh-tokoh besar ulama dan fuqaha’. Karena, umat Muhammad
tetap dalam kondisi baik hingga tiba hari kiamat. Dan tidak ada kebaikan bagi kita
jika tidak mengakui kedudukan dan keutamaan para ulama kita sendiri.
ESENSI-ESENSI
YANG SELESAI DENGAN KAJIAN
Polemik
berkembang di antara ulama menyangkut banyak substansi persoalan dalam bidang
aqidah, yang Allah swt. tidak membebani kita untuk mengkajinya. Dalam pandangan
saya polemik ini telah menghilangkan keindahan dan keagungan substansi masalah
ini. Misalkan, pro kontra para ulama menyangkut melihatnya Nabi saw. kepada
Allah swt. dan bagaimana cara melihatNya, dan perbedaan yang luas antara mereka
menyangkut persoalan ini. Sebagian berpendapat Nabi saw. melihat Allah swt.
dengan hatinya, dan sebagian berpendapat dengan mata. Kedua kubu ini sama-sama
mengajukan argumentasi dan membela pendapatnya dengan hal-hal yang tak berguna.
Dalam
pandangan saya perbedaan ini tidak berguna sama sekali. Justru menimbulkan
dampak negatif yang lebih besar dibanding manfaat yang didapat. Apalagi jika
masyarakat awam mendengar polemik yang pasti menimbulkan keragu-raguan di hati
mereka ini. Jika kita mau mengesampingkan polemik ini dan menganggap cukup
dengan menyajikan sunstansi persoalan ini apa adanya maka niscaya persoalan ini
tetap dimuliakan dan dihargai dalam sanubari kaum muslimin, dengan cara kita
mengatakan bahwa Rasulullah saw. melihat Tuhannya.
Cukup
kita berkata demikian sedangkan menyangkut cara melihat dan lain sebagainya
biarlah menjadi urusan Nabi saw.
Dalam firman Allah
swt:
وَكَلَّمَ
اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيماً
"Dan Allah
telah berfirman terhadap Musa"
Salah satu
subsatansi persoalan di atas adalah polemik yang berkembang di antara para
ulama menyangkut substansi firman Allah swt. dan perbedaan luas dalam masalah
ini. sebagian berpendapat bahwa firman Allah swt. adalah suara hati (kalam
nafsi) dan sebagian lagi berpendapat bahwa kalam Allah swt. berhuruf dan
bersuara. Saya sendiri berpendapat kedua pihak ini sama-sama mencari substansi
mensucikan Allah swt. dan menjauhi syirik dalam berbagai bentuknya.
Persoalan
kalam (firman Allah) adalah kebenaran yang tidak bisa diingkari, karena tidak
meniadakan kesempurnaan Ilahi. Ini adalah pandangan dari satu aspek. Ditinjau
dari aspek lain, sifat-sifat Allah swt. yang terdapat dalam al-Qur’an wajib
dipercayai dan ditetapkan, karena tidak ada yang mengetahui Allah swt. kecuali
Allah swt. sendiri. Apa yang saya yakini dan saya ajak adalah menetapkan
kebenaran ini tanpa perlu membicarakan bagaimana cara dan bentuknya. Kita
tetapkan bahwa Allah swt. memiliki sifat kalam dan berkata: "Ini adalah
kalam Allah swt. dan Allah swt. adalah Dzat yang berbicara." Kita cukup
berbicara seperti ini dan menjauhi mengkaji apakah kalam itu kalam nafsi atau
kalam yang bukan nafsi yang berhuruf dan bersuara atau tidak berhuruf dan tidak
bersuara.
Karena
pembahasan seperti ini berlebihan, yang Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa
tauhid tidak pernah membicarakannya. Lalu mengapa kita menambahkan apa yang
datang dibawa oleh Nabi saw.? Bukankah hal semacam ini adalah salah satu bid’ah
terburuk? Subhanaka Hadza Buhtanun ‘Adzim. Rasulullah Saw. mengabarkan kepada
kita tentang kalam pada saat kita berkumpul dengan beliau di sisi Allah swt.
Kami
mengajak agar pembicaraan kita selamanya menyangkut substansi kalam dan masalah
sejenis terlepas dari pembahasan mengenai cara dan bentuknya.
Dalam sabda
Rasulullah saw.:
إِنِّي
أَرَاكُمْ مِنْ خَلْفِي
"Saya mampu
melihatmu dari belakang."
Salah
satu subsatansi persoalan di atas adalah polemik yang terjadi di antara ulama
menyangkut substansi sabda Nabi saw, “Sesungguhnya saya bisa melihat kalian
dari belakang sebagaimana dari arah depan.” Sebagian ulama berpendapat bahwa
Allah swt. menciptakan dua mata di arah belakang. Sebagian berpendapat bahwa
Allah swt. menjadikan kedua mata beliau yang di depan memiliki kekuatan yang
mampu menembus bagian belakang. Sebagian lagi berpendapat bahwa Allah swt.
membalik obyek yang ada di belakang Nabi saw. sehingga berada di depan beliau.
Semua ini adalah interpretasi berlebihan yang membuat persoalan ini kehilangan
keindahan dan keelokannya sekaligus meredupkan kewibawaan dan keagungannya di
hati manusia. Adapun keberadaan Nabi saw. mampu melihat orang yang berada di
belakang sebagaimana melihat orang yang ada di depan maka ini adalah fakta yang
telah disampaikan beliau sendiri dalam hadits shahih.
Maka
tidak ada ruang sama sekali untuk membantahnya. Namun apa yang saya ajak dan
menjadi pendapat saya adalah menetapkan fakta ini apa adanya tanpa perlu
mengkaji cara dan bentuknya. Kita wajib meyakini kemungkinan terjadinya dan
dampaknya, dengan cara menyaksikan salah satu hal yang di luar kebiasaan yang
meminggirkan faktor penyebab untuk menampakkan kekuasaan Allah Yang Maha Esa
dan Maha Perkasa serta kedudukan Rasulullah saw.
جبريل
يتمثل رجلا
"Jibril
menyamar sebagai seorang lelaki"
Para
ulama bersilang sengketa menyangkut penyamaran Jibril as. saat datang membawa
wahyu dalam bentuk seorang lelaki padahal fisik Jibril as. sangat luar biasa
besar. Sebagian berpendapat bahwa Allah swt. membuang kelebihan dari fisiknya.
Sebagian lain menyatakan sebagian fisiknya menyatu dengan yang lain sehingga
menyusut menjadi kecil. Menurut hemat saya interpretasi ini tidak berguna. Saya
meyakini Allah mampu membuat Jibril menyamar dalam bentuk seorang laki-laki dan
ini merupakan fakta yang telah disaksikan oleh banyak sahabat.
Bagi
saya tidaklah penting mengetahui cara penyamaran Jibril dalam bentuk seorang
laki-laki dan saya mengajak saudara-saudara kita sesama pelajar untuk
menyampaikan fakta ini tanpa perlu menyinggung perbedaan-perbedaan yang
menyertainya agar fakta ini tetap besar dan agung dalam hati.
PENGERTIAN
TAWASSUL
Banyak
kalangan keliru dalam memahami substansi tawassul. Karena itu kami akan
menjelaskan pengertian tawassul yang benar dalam pandangan kami. Namun
sebelumnya akan kami jelaskan dulu point-point berikut:
1.
Tawassul adalah salah satu metode berdoa dan salah
satu pintu dari pintu-pintu untuk menghadap Allah swt. Maksud sesungguhnya
adalah Allah swt. Obyek yang dijadikan tawassul berperan sebagai mediator untuk
mendekatkan diri kepada Allah swt. Siapapun yang meyakini di luar batasan ini
berarti ia telah musyrik.
2.
Orang yang melakukan tawassul tidak bertawassul
dengan mediator tersebut kecuali karena ia memang mencintainya dan meyakini
bahwa Allah swt. mencintainya. Jika ternyata penilaiannya keliru niscaya ia akan
menjadi orang yang paling menjauhinya dan paling membencinya.
3.
Orang yang bertawassul jika meyakini bahwa media
yang dijadikan untuk bertawassul kepada Allah swt. itu bisa memberi manfaat dan
derita dengan sendirinya sebagaimana Allah swt. atau tanpa izinNya, niscaya ia
musyrik.
4.
Tawassul bukanlah suatu keharusan dan terkabulnya
doa tidaklah ditentukan dengannya. Justru yang asli adalah berdoa kepada Allah
swt. secara mutlak, sebagaimana firman Allah swt.:
وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا
دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila
hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah
mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran." (QS. al-Baqarah:186)
قُلِ
ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا
وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
"Katakanlah:
"Serulah Allah atau serulah ar-Rahman dengan nama yang mana saja kamu
seru, Dia mempunyai al-Asma' al-Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah
kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan
carilah jalan tengah di antara kedua itu." (QS. al-Isra`:110)
BENTUK
TAWASSUL YANG DISEPAKATI ULAMA
Tidak
ada seorang pun kaum muslimin yang menolak keabsahan tawassul dengan amal
shalih. Barangsiapa yang berpuasa, sholat, membaca al-Qur’an atau bersedekah
berarti ia telah bertawassul dengan puasa, sholat, bacaan, dan sedekahnya.
Malah tawassul model ini lebih besar peluangnya untuk diterima dan terkabulnya
harapan. Tidak ada yang mengingkari hal ini.
Dalil
diperbolehkannya tawassul dengan amal shalih adalah sebuah hadits yang
mengisahkan tiga lelaki yang terperangkap dalam goa. Salah seorang bertawassul
dengan pengabdiannya kepada kedua orangtua, yang lain dengan tindakannya
menjauhi perbuatan zina setelah kesempatan itu terbuka lebar, dan yang ketiga
dengan sikap amanah serta menjaga harta orang lain dan menyerahkan seluruhnya
kepada orang tersebut. Allah pun menyingkirkan persoalan yang mendera mereka.
Tawassul
model ini telah dikaji, dijelaskan dalil-dalinya dan dibahas secara mendalam
oleh Syaikh Ibnu Taimiyyah dalam kitab-kitabnya, khususnya dalam risalahnya
yang berjudul “Qa’idah Jalilah fi at-Tawassul wa al-Wasilah”.
Titik
Perbedaan
Sumber
perbedaan dalam masalah tawassul adalah tawassul dengan selain amal orang yang
bertawassul, seperti tawassul dengan dzat atau orang dengan mengatakan:
"Ya Allah, aku bertawassul dengan NabiMu Muhammad saw, atau dengan Abu
Bakar, Umar ibn Khaththab, ‘Utsman, atau Ali ra." Tawassul model inilah
yang dilarang oleh sebagian ulama.
Kami
memandang bahwa pro kontra menyangkut tawassul sekedar formalitas bukan
substansial. Karena tawassul dengan dzat pada dasarnya adalah tawassulnya
seseorang dengan amal perbuatannya, yang telah disepakati merupakan hal yang
diperbolehkan. Seandainya orang yang menolak tawassul yang keras kepala melihat
persoalan dengan mata hati niscaya persoalan menjadi jelas, keruwetan terurai
dan fitnah yang menjerumuskan mereka yang kemudian memvonis kaum muslimin telah
musyrik dan sesat, pun hilang.
Akan
saya jelaskan bagaimana orang yang tawassul dengan orang lain pada dasarnya
adalah bertawassul dengan amal perbuatannya sendiri yang dinisbatkan kepadanya
dan yang termasuk hasil usahanya.
Saya
katakan: Ketahuilah bahwa orang yang bertawassul dengan siapa pun itu karena ia
mencintai orang yang dijadikan tawassul tersebut. Karena ia meyakini
keshalihan, kewalian dan keutamaannya, sebagai bentuk prasangka baik
terhadapnya. Atau karena ia meyakini bahwa orang yang dijadikan tawassul itu
mencintai Allah swt, yang berjihad di jalan Allah swt. Atau karena ia meyakini
bahwa Allah swt. mencintai orang yang dijadikan tawassul, sebagaimana firman
Allah swt.:
"يحبّونهم
ويحبّونه"
atau
sifat-sifat di atas seluruhnya berada pada orang yang dijadikan obyek tawassul.
Jika
anda mencermati persoalan ini maka anda akan menemukan bahwa rasa cinta dan
keyakinan tersebut termasuk amal perbuatan orang yang bertawassul. Karena hal
itu adalah keyakinan yang diyakini oleh hatinya, yang dinisbatkan kepada
dirinya, dipertanggungjawabkan olehnya dan akan mendapat pahala karenanya.
Orang
yang bertawassul itu seolah-olah berkata, “Ya Tuhanku, saya mencintai fulan dan
saya meyakini bahwa ia mencintaiMu. Ia orang yang ikhlas kepadaMu dan berjihad
di jalanMu. Saya meyakini Engkau mencintainya dan Engkau ridha terhadapnya.
Maka saya bertawassul kepadaMu dengan rasa cintaku kepadanya dan dengan
keyakinanku padanya, agar Engkau melakukan seperti ini dan itu."
Namun
mayoritas kaum muslimin tidak pernah menyatakan ungkapan ini dan merasa cukup
dengan kemahatahuan Dzat yang tidak samar baginya hal yang samar, baik di bumi
maupun langit. Dzat yang mengetahui mata yang berkhianat dan isi hati yang
tersimpan.
Orang
yang berkata : “Ya Allah, saya bertawassul kepadaMu dengan NabiMu," itu
sama dengan orang yang mengatakan: "Ya Allah, saya bertawassul kepadaMu
dengan rasa cintaku kepada NabiMu."
Karena
orang yang pertama tidak akan berkata demikian kecuali karena rasa cinta dan
kepercayaannya kepada Nabi. Seandainya rasa cinta dan kepercayaan kepada Nabi
ini tidak ada maka ia tidak akan bertawassul dengan Nabi. Demikian pula yang
terjadi pada selain Nabi dari para wali.
Berangkat
dari paparan di muka, nyatalah bahwa pro kontra masalah tawassul sesungguhnya
hanya formalitas yang tidak perlu berdampak perpecahan dan perseteruan dengan
menjatuhkan vonis kufur terhadap orang-orang yang bertawassul dan mengeluarkan
mereka dari lingkaran Islam
سُبْحَانك
هَذَا بُهْتَان عَظِيم
DALIL-DALIL
TAWASSUL
YANG
DIPRAKTEKKAN KAUM MUSLIMIN
Allah
swt. berfirman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
Wasilah adalah
segala sesuatu yang dijadikan Allah swt. sebagai faktor untuk mendekatkan
kepada Allah swt. dan sebagai media untuk mencapai kebutuhan. Parameter dalam
bertawassul adalah bahwa yang dijadikan wasilah itu memiliki kedudukan dan
kemuliaan di mata yang ditawassulkan.
Lafadz
al-Wasilah dalam ayat di atas bersifat umum sebagaimana anda lihat. Lafadz ini
mencakup tawassul dengan sosok-sosok mulia dari kalangan para Nabi dan sholihin
baik di dunia maupun sesudah mati dan tawassul dengan melakukan amal shalih
sesuai dengan ketentuannya. Tawassul dengan amal shalih ini dilakukan setelah
amal ini dikerjakan.
Dalam
hadits dan atsar yang akan anda dengar terdapat keterangan yang menjelaskan
keumuman ayat di atas. Maka perhatikan dengan seksama agar anda bisa melihat
bahwa tawassul dengan Nabi saw. sebelum wujudnya beliau dan sesudahnya di
dunia, sesudah wafat dalam alam barzakh dan sesudah dibangkitkan di hari
kiamat, terdapat di dalamnya.
TAWASSUL
DENGAN NABI MUHAMMAD SAW. SEBELUM WUJUD DI DUNIA
Nabi Adam as.
bertawassul dengan Nabi Muhammad saw.
Di dalam sebuah
hadits terdapat keterangan bahwa Nabi Adam as. bertawassul dengan Nabi Muhammad
saw.
Dalam
al-Mustadrok, Imam al-Hakim berkata: Abu Sa’id Amr ibnu Muhammad al-‘Adlu
menceritakan kepadaku, Abul Hasan Muhammad Ibnu Ishak Ibnu Ibrahim al-Handhori
menceritakan kepadaku, Abul Harits Abdullah ibnu Muslim al-Fihri menceritakan
kepadaku, Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam menceritakan kepadaku, dari ayahnya
dari kakeknya dari Umar ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:”Ketika Adam
melakukan kesalahan, ia berkata Ya Tuhanku, Aku mohon kepadaMu dengan haqqnya
Muhammad agar Engkau mengampuniku.” Allah berkata; Wahai Adam bagaimana engkau
mengenal Muhammad padahal Aku belum menciptakanya. “ Wahai Tuhanku, karena
ketika Engkau menciptakanku dengan kekuatanMu dan Engkau tiupkan nyawa pada
tubuhku dari roh-Mu, maka aku tengadahkan kepalaku lalu saya melihat di
kaki-kaki ‘Arsy terdapat tulisan “Laa Ilaha illa Allahu Muhammadur Rasulullah”,
maka saya yakin Engkau tidak menyandarkan namaMu kecuali nama makhluk yang
paling Engkau cintai,” jawab Adam. “Benar kamu wahai Adam, Muhammad adalah
makhluk yang paling Aku cintai. Berdo’alah kepadaKu dengan haqqnya Muhammad
maka Aku ampuni kamu. Seandainya tanpa Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu,”
lanjut Allah.
Imam
al-Hakim meriwayatkan hadits di atas dalam kitab Al Mustadrok dan menilainya
sebagai hadits shahih ( vol. 2 hal. 615 ). Al Hafidh As Suyuthi meriwayatkan
dalam kitab Al Khashais An Nabawiyah dan mengategorikan sebagai hadits shahih.
Imam Al Baihaqi meriwayatkanya dalam kitab Dalail Nubuwah, dan beliau tidak
meriwayatkan hadits palsu sebagaimana telah ia jelaskan dalam pengantar
kitabnya. Al Qasthalani dan Az Zurqani dalam Al Mawahib Al Laduniyah juga
menilainya sebagai hadits shahih. vol. 1 hal. 62. As Subuki dalam kitabnya
Syifaussaqaam juga menilainya sebagai hadits shahih. Al Hafidh Al Haitami
berkata, “At Tabrani meriwayatkan hadits di atas dalam Al Ausath dan di dalam
hadits tersebut terdapat rawi yang tidak saya kenal.” Majma’uzzawaid vol. 8
hal. 253.
Terdapat
hadits dari jalur lain dari Ibnu ‘Abbas dengan redaksi: “Jika tidak ada
Muhammad maka Aku tidak akan menciptakan Adam, surga dan neraka.”
HR.
Al-Hakim dalam Al Mustadrak dengan isnad yang menurutnya shahih. Syaikhul Islam
Al Bulqini dalam Fatawinya juga menilai hadits ini shahih. Hadits ini juga
dicantumkan oleh Syaikh Ibnul Jauzi dalam Al Wafaa pada bagian awal kitab dan
dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah vol. 1 hlm. 180.
Sebagian
ulama tidak sepakat atas keshahihan hadits tersebut lalu mengomentari
statusnya, menolaknya dan memvonisnya sebagai hadits palsu (maudlu’) seperti
Adz Dzahabi dan pakar hadits lain. Sebagian menilainya sebagai hadits dlo’if
dan sebagian lagi menganggapnya sebagai hadits munkar. Dari penjelasan ini,
tampak bahwa para pakar hadits tidak satu suara dalam menilainya. Karena itu
persoalan ini menjadi polemik antara yang pro dan kontra berdasarkan perbedaan
mereka menyangkut status hadits. Ini adalah kajian dari aspek sanad dan eksistensi
hadits. Adapun dari aspek makna, maka mari kita simak penjelasan Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah mengenai hadits tawassul ini.
DOKUMEN-DOKUMEN
TENTANG
HADITS
TAWASSUL ADAM AS
Dalam
konteks ini Ibnu Taimiyyah menyebut dua hadits seraya berargumentasi dengan
keduanya. Ia berkata, “Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi meriwayatkan dengan sanadnya
sampai Maisarah. Maisarah berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan
engkau menjadi Nabi?” “Ketika Allah menciptakan bumi dan naik ke atas langit
dan menyempurnakannya menjadi tujuh langit, dan menciptakan ‘arsy maka Allah
menulis di atas kaki ( betis ) ‘arsy “Muhammad Rasulullah Khaatamul Anbiyaa’.”
Dan Allah menciptakan sorga yang ditempati oleh Adam dan Hawwaa’. Lalu Dia
menulis namaku pada pintu, daun, kubah dan kemah. Saat itu kondisi Adam berada
antara ruh dan jasad. Ketika Allah menghidupkan Adam, ia memandang ‘arsy dan
melihat namaku. Lalu Allah menginformasikan kepadanya bahwa Muhammad ( yang
tercatat pada ‘arsy ) junjungan anakmu. Ketika Adam dan Hawwa’ terpedaya oleh
syetan, keduanya bertaubat dan memohon syafa’at dengan namaku kepada-Nya.”
Abu
Nu’aim Al-Hafidh meriwayatkan dalam kitab Dalaailu al-Nubuwwah dan melalui
jalur Syaikh Abi al-Faraj. Menceritakan kepadaku Sulaiman ibn Ahmad,
menceritakan kepadaku Ahmad ibn Rasyid, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Sa’id
al-Fihri, menceritakan kepadaku Abdullah ibn Ismail al-Madani dari Abdurrahman
ibn Yazid ibn Aslam dari ayahnya dari ‘Umar ibn al-Khaththab, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Adam melakukan kesalahan, ia mendongakkan
kepalanya. “Wahai Tuhanku, dengan hak Muhammad, mohon Engkau ampuni aku,” ujar
Adam. Lalu Adam mendapat pertanyaan lewat wahyu, “Apa dan siapakah Muhammad?”
“Ya Tuhanku, ketika Engkau menyempurnakan penciptaanku, aku mendongakkan
kepalaku ke arah ‘arsy-Mu dan ternyata di sana tertera tulisan “Laa Ilaaha illa
Allaah Muhammadun Rasulullaah”. Jadi saya tahu bahwa Muhammad adalah makhluk
Engkau yang paling mulia di sisi-Mu. Karena Engkau merangkai namanya dengan
nama-Mu,” jawab Adam. “Betul,” jawab Allah, “Aku telah mengampunimu, dan
Muhammad Nabi terakhir dari keturunanmu. Jika tanpa dia, Aku tidak akan
menciptakanmu.”
Hadits
ini menguatkan hadits sebelumnya, dan keduanya seperti tafsir atas beberapa
hadits shahih. (Al-Fatawa, vol. II hlm. 150).
Pendapat
saya, fakta ini menunjukkan bahwa hadits di atas layak dijadikan penguat dan
legitimasi. Karena hadits maudlu’ atau bathil tidak bisa dijadikan penguat di
mata para pakar hadits. Dan anda melihat sendiri bahwa Syaikh Ibnu Taimiyyah
menjadikannya sebagai penguat atas penafsiran.
Comments
Post a Comment